-
Donald Trump memperingatkan potensi kehancuran permanen pada infrastruktur minyak Iran akibat blokade laut.
-
Amerika Serikat menghentikan perjalanan diplomatik dan menuntut Iran memulai inisiatif pembicaraan secara langsung.
-
Penyerahan uranium menjadi syarat mati bagi AS dalam menyepakati perjanjian perdamaian dengan Iran.
Suara.com - Donald Trump memprediksi keruntuhan fatal pada sistem produksi minyak Iran akibat blokade ketat armada laut Amerika Serikat.
Langkah ini diambil untuk memastikan Teheran tidak memiliki ruang gerak dalam mengembangkan kekuatan ekonomi maupun militer mereka.
Dikutip dari Anadolu, Trump menilai kondisi infrastruktur energi lawan berada di titik nadir yang bisa memangkas kapasitas produksi hingga separuh.
Penekanan ini menjadi babak baru dalam upaya Washington memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi lemah.
Strategi ini dirancang agar Teheran menyadari bahwa waktu untuk menyelamatkan aset nasional mereka hampir habis.
Terkait peran Beijing, Trump mengaku tidak terlalu merasa kecewa dengan keterlibatan China dalam mendukung Iran sejauh ini.
Ia beranggapan bahwa bantuan yang diberikan China kepada sekutunya tersebut masih dalam batas yang cukup wajar.
"Saya tidak berpikir banyak. Saya pikir mungkin membantu, tetapi saya tidak berpikir banyak yang mereka bisa," ujar Trump.
Menurutnya, Negeri Tirai Bambu sebenarnya memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi yang jauh lebih signifikan dari sekarang.
Baca Juga: QRIS Ditargekan Bisa Dipakai di China Mulai 30 April, BI-FAST Terhubung di 5 Negara
"Mereka bisa membantu lebih banyak lagi. Saya tidak merasa sangat kecewa," tambah sang Presiden.
Trump secara resmi menghentikan pengiriman delegasi diplomatik AS ke wilayah sekitar Iran untuk melakukan pembicaraan langsung.
Ia menegaskan bahwa pihak Iran yang seharusnya mengambil inisiatif untuk menghubungi Washington jika ingin berdialog.
AS menolak mengirim perwakilan dalam perjalanan jauh jika tidak ada kepastian mengenai tuntutan utama terkait senjata nuklir.
"Mereka tahu apa yang harus ada dalam perjanjian. Sangat sederhana. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu," tegas Trump.
Bagi Gedung Putih, kepemilikan uranium atau yang disebut Trump sebagai debu nuklir adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Honda Vario 160 Teranyar Dikabarkan Meluncur Akhir Bulan Ini, Tampang Lebih Agresif
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Gubernur Ahmad Luthfi Dinobatkan Sebagai Tokoh Penggerak UMKM dan Ekonomi Kreatif
-
Damaikan Timur Tengah, Prabowo Disarankan Pakai Strategi Geopolitik Bung Karno
-
Polisi Buru Pelaku Utama Pendorong Pria hingga Tewas dari Lantai Dua Tempat Biliar
-
Pengeroyok Dico di Biliar Grogol Diciduk! Dua Pelaku Ternyata Masih Bocah di Bawah Umur
-
Makan Gratis Tak Boleh Sekadar Kenyang, Wajib Jadi Senjata Pamungkas Hapus Kemiskinan!
-
Kasus Tambang Ilegal dan TPPU, Bareskrim Polri Sita Pabrik Pemurnian Emas PT SJU di Sidoarjo
-
Sadis! Pemuda Tewas di Biliar Grogol Sengaja Dijatuhkan dari Lantai 2 usai Cekcok Mabuk Miras
-
Modal Rp5 Miliar Tagih Rp44 Miliar, Tiga ASN Kemendag Didakwa Korupsi Gerobak Rp39 M
-
Viral Bocah 6 Tahun di Jakpus Pingsan Tersengat Listrik, Polisi Usut Dugaan Perundungan
-
Tito Karnavian Siap 'Tempur' Bahas RUU Pemilu: Apa Pun Skenarionya Kami Siap