- Noorman Windarto melaporkan adanya penipuan fasilitas dan tindak kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta pada April 2026.
- Korban mengalami trauma psikologis serta gangguan kesehatan serius akibat lingkungan yang tidak manusiawi dan minim pengawasan pengelola daycare.
- Orang tua menuntut pihak kepolisian memberikan hukuman maksimal kepada manajemen dan pengasuh yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap anak.
Suara.com - Noorman Windarto, salah satu orang tua korban, mengaku tertipu oleh citra profesional dan fasilitas mewah yang sempat dijanjikan pihak Daycare Little Aresha Yogyakarta sejak awal.
Ia tak memungkiri sempat sangat percaya pada lembaga tersebut, terlebih dengan citra yang dibangun begitu meyakinkan. Mulai dari gelar akademik pengelola hingga sikap komunikatif orang-orang di dalamnya.
"Jujur branding-nya itu bagus. Body language-nya ibunya itu bagus, ketika saat kita datang tuh langsung sendiri yang menyambut beliau, owner-nya langsung. Komunikasinya juga ke orang tua bagus sekali, komunikatif dan lebih menenangkan," kata Noorman, Senin (27/4/2026).
Awal yang sangat meyakinkan itu, membuat Noorman memercayakan pengasuhan kedua anaknya di lembaga tersebut dalam rentang waktu yang cukup lama.
Anak pertamanya dititipkan sejak tahun 2022 hingga 2025 terhitung sejak usia 2 hingga 5 tahun. Sementara anak keduanya yang telah dititipkan sejak usia bayi 3 bulan hingga kini menginjak usia 2,5 tahun.
Kepercayaan Noorman semakin diperkuat dengan deretan gelar pendidikan yang terpampang jelas di area masuk gedung. Di depan pintu, terdapat daftar kepengurusan Yayasan Aresha Indonesia Center.
"Nah itu lengkap dan semua gelarnya S2 dan di situ ada perawat, ada bidang ini, bidang itu, semua lengkap yang itu menambah keyakinan kami untuk menitipkan anak di daycare tersebut," ungkapnya.
Selain itu lembaga tersebut menggunakan strategi pemasaran yang sangat meyakinkan. Termasuk menawarkan solusi bagi orang tua melalui sistem penjemputan yang fleksibel.
Noorman menjelaskan bahwa fitur layanan jam jemput yang fleksibel itu bahkan tanpa tambahan biaya. Layanan ini menjadi daya tarik utama yang membuat para orang tua merasa terbantu.
Baca Juga: Cek 7 Tanda Daycare yang Aman bagi Bayi Agar Tidak Menjadi Korban
"Biayanya ya cukup lumayan ya kalau untuk Jogja tuh standar agak menengah ke atas sekitar satu jutaan lah. Penjemputan lebih ke fleksibel, tidak ada tambahan charge biaya gitu. Nah itu menjadi branding yang bagus ya karena dicari di daycare di Jogja mungkin ya susah karena sistem kerja di kami kan harus menyesuaikan," ujar Noorman.
"Bisa (dijemput) fleksibel dan tidak ada tambahan charge biaya gitu. Nah itu menjadi branding yang bagus ya karena dicari daycare di Jogja mungkin ya susah kalau terkait yang fleksibel," tuturnya.
"Karena kan sistem kerja di kami (orang tua) kan harus menyesuaikan, kadang-kadang nggak on time waktu pulang kerja. Jadi dengan adanya daycare yang menawarkan (jam) fleksibel kami tertarik," tambahnya.
Mulai Merasa Janggal
Namun, ternyata di balik tembok gedung yang tertutup rapat bagi orang tua tersimpan realita yang kontras. Noorman mulai menyadari ada yang salah ketika anak keduanya hampir setiap bulan jatuh sakit.
Usut punya usut, kondisi fasilitas yang dijanjikan seperti pendingin ruangan (AC) dan kasur yang layak ternyata hanya fiktif belaka.
"Fasilitas kesehatan itu ternyata nggak ada, yang dijanjikan nggak ada. Anak saya yang nomor dua itu kan setiap bulan masuk rumah sakit, periksa ke dokter sakit terdiagnosis pneumonia dari usia 3 bulan," ujarnya.
"Itu hampir setiap bulan itu kita sakit, kita nggak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," imbuhnya.
Kecurigaan Noorman sebenarnya sudah muncul saat menemukan luka fisik di punggung dan bibir anaknya. Namun, setiap kali dikonfirmasi, pihak daycare selalu memiliki alasan diplomatis.
Tak hanya itu, bahkan pihak daycare seolah melakukan serangan balik dengan menuduh bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.
"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh ada, pasti ada. Terus sampai di daycare itu langsung kayak di-klarifikasi. Langsung difoto sama pihak sekolah, 'Ini adik sudah luka dari rumah lho.' Wah, sudah mulai janggal nih," tuturnya.
Psikologis Anak Tertekan
Secara psikologis, trauma anak-anak terlihat dari perilaku harian mereka. Noorman baru menyadari bahwa tangis histeris anaknya setiap pagi merupakan bentuk penolakan terhadap perlakuan di tempat penitipan tersebut.
Hal ini berbeda drastis ketika akhir pekan tiba, di mana sang anak tampak tenang dan natural. Sebab tak harus pergi ke tempat penitipan.
"Kalau adiknya itu hampir setiap pagi kalau mau berangkat itu kita mau mandiin itu pasti nangis. Tapi kalau Sabtu sampai Minggu, dia natural, tidak ada nangis, ketakutan, artinya mandi ya mandi gitu. Jadi itu dampak-dampak yang saya saat ini baru ngeh," ujarnya.
Puncaknya, Noorman melihat sendiri bukti rekaman dari kepolisian saat proses penggerebekan. Ia sangat terpukul melihat anak-anak diperlakukan secara tidak manusiawi.
Ada yang diikat di cagak pintu hingga diletakkan di lantai tanpa pengawasan dan perlakuan yang memadai.
"Yang saya lihat tadi dari kepolisian tuh yang pas anak-anak masih diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok dan ada yang masih berdiri di cagak pintu ya," tandasnya.
"Saya kalau sudah melihat yang diikat itu udah miris. Nangis, ya pasti. Itu udah kayak saya salah lah menitipkan anak," sambungnya.
Apalagi, kata Noorman kondisi di dalam daycare tersebut ternyata sangat tidak manusiawi. Mengingat jumlah anak yang dititipkan mencapai puluhan orang di satu lokasi yang pengap.
Ditambah lagi tak ada akses untuk orang tua masuk memeriksa langsung anak mereka.
"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih anak pada usia bayi sampai balita tuh wah luar biasa ternyata nggak manusiawi kalau sama Kamp Guantanamo aja lebih sadis kamp ini ternyata," ujarnya.
Tuntut Pelaku Dihukum Berat
Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi orang tua lain agar tidak mudah percaya hanya pada tampilan luar sebuah lembaga. Terlebih yang berkaitan dengan tempat penitipan anak.
Kini, Noorman menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwajib dan menuntut hukuman maksimal bagi pihak yang terlibat di dalamnya.
Baginya, penegakan hukum yang setimpal adalah satu-satunya cara untuk menebus rasa bersalahnya sebagai orang tua yang sempat terlena oleh janji-janji manis.
"Saya percayakan kepada polisi untuk dihukum yang seberat-beratnya. Untuk pelaku ataupun tersangka, dari semuanya manajemen dan pengasuh yang ada di sana ya dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlakulah," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Mayoritas Daycare Belum Berizin, Menteri PPPA Soroti Minimnya Standar dan Risiko bagi Anak
-
Bongkar Dampak Buruk Reklamasi di Pulau Serangan, DPR Minta Penghentian Sementara Seluruh Aktivitas!
-
Murni Penembakan atau Siasat Trump? Republik Tuduh Partai Demokrat sebagai Biang Kerok
-
Kapal Tanker Dibajak di Somalia, 4 WNI Jadi Tawanan
-
Analisis: Kenapa Perang 40 Hari Justru Perkuat Posisi Iran di Mata Dunia?
-
Gerak-gerik Mencurigakan Wanita Rambut Pirang Saat Penembakan Donald Trump, Ada yang Aneh
-
Dosen UGM Jadi Penasihat Daycare Little Aresha, Kampus Tegaskan: Bukan Representasi Institusi
-
Siapa Cole Tomas Allen? Guru Terbaik Diduga Pelaku Penembakan Trump, Pendukung Partai Demokrat
-
Donald Trump Buka Tangan ke China Bantu Konflik di Selat Hormuz, Tapi Tidak Berharap Banyak
-
Bom Meledak di Bus Kolombia Hingga Ciptakan Kawah Besar, 20 Orang Tewas