- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mendorong RUU Ketenagakerjaan baru di Jakarta, Senin (27/4/2026), berbasis pada nilai historis serta ideologi perjuangan buruh.
- Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan proses penyusunan regulasi baru harus melibatkan partisipasi aktif pemerintah, pengusaha, serta serikat pekerja demi keadilan.
- PDI Perjuangan memperingati Hari Buruh 2026 melalui diskusi strategis dan puncak acara manifesto buruh pada 3 Mei mendatang.
Suara.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa perjuangan kaum buruh di Indonesia tidak boleh dilepaskan dari akar historis dan ideologis bangsa.
Dalam penyusunan RUU Ketenagakerjaan yang baru, Hasto menekankan pentingnya narasi pembebasan sebagai landasan utama untuk mewujudkan buruh yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "RUU Ketenagakerjaan Baru dan RUU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI)" yang digelar di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Acara ini dihadiri Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli.
Ia menjelaskan, bahwa perspektif ajaran Bung Karno mengenai kemerdekaan bukan sekadar lepas dari penjajahan fisik, melainkan pembebasan dari sistem ekonomi yang tidak adil.
“Kemiskinan petani, buruh, dan nelayan adalah gambaran nyata penjajahan yang tidak adil. Semua harus dibangun kesadarannya untuk berjuang dengan cara-cara politik. RUU Ketenaga kerjaan harus mengandung aspek historis dan idelogis tsb sebagai konsideran pokok,” tegas Hasto dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Lebih lanjut, Hasto mengingatkan bahwa regulasi ketenagakerjaan tidak boleh hanya disusun sebagai dokumen teknokratik semata.
Ia mendesak agar nilai-nilai historis perjuangan buruh dijadikan konsideran pokok sebelum masuk ke ranah teknis kebijakan.
"Baru kemudian dijabarkan dalam landasan teknokratik, termasuk bagaimana pemerintah bertanggung jawab di dalam mendorong sinergi kebijakan. Termasuk di dalamnya adalah konsolidasi industri nasional bagi penciptaan mata rantai ekonomi yang menciptakan lapangan kerja bagi buruh,” ujarnya.
Dalam pandangan Hasto, negara harus hadir melalui kebijakan yang mendorong profesionalitas dan produktivitas buruh, baik melalui langkah berdikari maupun intervensi langsung pemerintah.
Baca Juga: Jelang May Day, Pemerintah Siapkan Aturan Baru Outsourcing dan Satgas PHK
Tak hanya mengandalkan peran negara, Hasto juga menitipkan pesan kuat agar kaum buruh terus memperkuat posisi tawar mereka dengan cara mengorganisir diri secara solid.
Ia meyakini bahwa kedaulatan buruh adalah kunci lahirnya kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
"Namun buruh juga harus mengorganisir diri. Sejarah mengajarkan, jika buruh berdaulat dan kuat, akan menjadi jalan efektif bagi kebijakan yg berpihak pada buruh, namun tetap dalam hubungan industrial yang baik,” katanya.
Adapun Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melalui pesan video khusus, turut menekankan bahwa kesejahteraan buruh adalah prasyarat mutlak bagi tercapainya keadilan sosial.
Mengacu pada pemikiran Bung Karno tentang kaum Marhaen, perjuangan meningkatkan kesejahteraan petani, buruh, dan nelayan adalah demi kemajuan Indonesia Raya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Kapoksi Komisi IX DPR RI sekaligus Ketua Panitia, Edy Wuryanto, menyampaikan bahwa acara ini mengusung tema "Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari".
Berita Terkait
-
Jelang May Day, Pemerintah Siapkan Aturan Baru Outsourcing dan Satgas PHK
-
Presiden Prabowo Desain Khusus Kaus dan Payung untuk Peringatan May Day 2026
-
Prabowo Dipastikan Hadiri May Day 2026 di Monas, Bakal Orasi di Depan Ratusan Ribu Buruh
-
Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH, Andi Gani: Kehormatan Besar Bagi Gerakan Buruh Indonesia
-
Hari Buruh 1 Mei 2026 Libur atau Tidak? Simak Ketentuannya Menurut SKB 3 Menteri
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim
-
Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih