-
Pendapatan sopir di Filipina merosot tajam akibat lonjakan harga BBM global yang sangat signifikan.
-
Komunitas sipil menggalang dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan harian para pengemudi angkutan.
-
Warga mendesak pemerintah Filipina memberikan subsidi tetap dan menghapus pajak minyak sementara waktu.
Suara.com - Krisis minyak dunia yang dipicu konflik Timur Tengah kini menghantam sektor transportasi publik di Filipina secara telak.
Kenaikan harga bahan bakar yang tidak terkendali mencekik para pengemudi angkutan yang memiliki margin keuntungan sangat tipis.
Dikutip dari CNA, situasi ekonomi ini telah mengubah tatanan hidup para pekerja jalanan yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas.
Ketergantungan pada energi fosil membuat sektor transportasi menjadi garda terdepan yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik.
Kini para pengemudi harus berjuang ekstra keras hanya untuk sekadar menutup biaya operasional kendaraan mereka sendiri.
Data menunjukkan harga solar dan bensin melonjak hingga tiga kali lipat sejak bulan Maret yang lalu.
Kondisi ini mengakibatkan pendapatan harian sopir jeepney merosot tajam dari 50 dolar AS menjadi hanya 6 dolar AS.
Bantuan dari pihak pemerintah dinilai belum memadai untuk menjaga keberlangsungan operasional angkutan umum di jalanan kota.
Kekosongan peran negara ini kemudian mulai diisi oleh gerakan swadaya dari individu serta kelompok masyarakat sipil.
Baca Juga: Politikus PSI Sebut Gubernur DKI Lembek, Tawuran Tak Kunjung Tuntas
Munculnya inisiatif pemberian makan gratis dan donasi menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota dalam beberapa pekan.
Inisiatif Dapur Umum dan Solidaritas Warga
Trining’s Kitchen Stories di Kota Marikina menjadi salah satu tempat yang menyediakan makanan bergizi bagi para sopir.
Restoran kecil ini mengandalkan kucuran dana dari donatur pribadi serta pelaku bisnis lokal untuk menjalankan aksinya.
Hingga saat ini mereka tercatat telah menyalurkan lebih dari seribu paket makanan hangat bagi warga yang terdampak.
Pemilik restoran, Jayson Maulit, percaya bahwa semangat gotong royong merupakan bagian tidak terpisahkan dari identitas nasional negaranya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim