-
Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC untuk mengejar target produksi mandiri secara bebas.
-
Kepergian ini melemahkan pengaruh Arab Saudi dalam mengendalikan stabilitas harga minyak dunia secara global.
-
Analis memprediksi risiko volatilitas harga tinggi akibat hilangnya kapasitas cadangan strategis aliansi energi.
Suara.com - Langkah Uni Emirat Arab meninggalkan kartel minyak OPEC diambil untuk memastikan kebijakan energi nasional tetap lincah.
Keputusan ini dianggap sangat tepat mengingat kondisi Selat Hormuz yang saat ini sedang mengalami penutupan akses.
Dampak dari pengunduran diri ini diprediksi tidak akan mengguncang stabilitas harga minyak di pasar global secara drastis.
Keterbatasan distribusi di jalur laut utama tersebut membuat volume ekspor dari berbagai negara produsen menjadi tertahan.
UEA menilai momentum ini sebagai waktu terbaik untuk melakukan transisi kebijakan tanpa membebani negara-negara mitra lainnya.
Menteri Energi Suhail Al Mazrouei menegaskan bahwa langkah ini merupakan perwujudan kedaulatan penuh negara atas sumber dayanya.
Ia menyampaikan bahwa pilihan untuk keluar sama sekali tidak dipengaruhi oleh tekanan politik dari pihak eksternal.
Fokus utama pemerintah adalah memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam merespons fluktuasi ekonomi dengan cepat.
Keanggotaan dalam organisasi internasional terkadang memberikan batasan produksi yang tidak selaras dengan visi jangka panjang negara.
Baca Juga: Cek Fakta: Rudal Iran Melewati Langit Saudi Menuju Israel, Benarkah?
Dengan menjadi pemain mandiri, UEA berharap dapat lebih adaptif dalam menghadapi tantangan industri migas masa depan.
Suhail Al Mazrouei dalam wawancaranya menjelaskan secara detail mengenai latar belakang waktu pengambilan keputusan strategis tersebut.
"Waktunya tepat karena tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar dan harga karena Selat Hormuz ditutup dan dibatasi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi geografis saat ini secara alami telah membatasi kemampuan distribusi seluruh produsen minyak.
"Jadi semua orang terkendala, termasuk kami, namun mengambil keputusan sekarang akan membantu semua teman kami… (untuk) tidak merasakan tekanan pada harga," tambahnya.
Penjelasan ini ditujukan untuk menenangkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi lonjakan harga akibat berkurangnya koordinasi produksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Akses Keluar Tol Pekanbaru-Dumai Dialihkan Mulai Hari Ini, Kenapa?
-
4 Lipstik Maybelline Warna Peach, Bikin Kulit Sawo Matang Auto Cerah dan Segar
-
Stop Normalisasi Rayap Besi: Saatnya Benahi Penegakan Hukumnya
-
Pajak di Tangan yang Tepat, Warga Singapura Dapat Rp 4,2 Juta Per Bulan Imbas Harga Minyak Naik
-
Febri Diansyah Tantang Kejagung Buktikan Pemilik Emas 74 Kg: Jangan Cuma Andalkan Pengakuan Tesangka
-
IHSG Ditutup Naik ke Level 6.147 di Sesi I, Saham-saham Ini Jadi Penopangnya!
-
Tambang Emas Martabe Tak Jadi Diambil Danantara, Pendapatan UNTR Turun 15 Persen
-
Apa Perbedaan antara Mobil Listrik dan Mobil Hybrid? Kenali Kelebihan dan Kekurangannya
-
Sosok Setya Budi Dias, Pegawai KPK Ikut Jadi Tersangka Pemerasan Bupati Pemalang
-
Kereta Api Harus Layani Rakyat, Bukan Sekadar Kejar Untung