-
Uni Emirat Arab resmi meninggalkan OPEC demi mengutamakan kepentingan nasional dan produksi minyak mandiri.
-
Konflik Iran dan perang energi global menjadi latar belakang pengunduran diri strategis Abu Dhabi.
-
Arab Saudi kini menanggung beban stabilitas harga minyak sendirian pasca keluarnya Uni Emirat Arab.
Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat sebelumnya sempat melontarkan kritik pedas dengan menuduh OPEC sedang merampok dunia melalui inflasi harga.
Trump bahkan secara eksplisit mengaitkan bantuan militer Amerika di kawasan Teluk dengan kewajiban para produsen untuk menjaga harga minyak tetap rendah.
“Memanfaatkan hal ini dengan membebankan harga minyak yang tinggi,” ungkap Trump saat mengkritik perlindungan keamanan yang diberikan AS kepada anggota kartel.
UEA sendiri telah memiliki sejarah panjang dalam organisasi ini sejak bergabung melalui Emirat Abu Dhabi pada tahun 1967 silam.
Namun daya tawar kartel yang berbasis di Wina ini mulai melemah seiring dengan meroketnya produksi minyak mentah dari Amerika Serikat.
Persaingan ekonomi antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi di wilayah Laut Merah juga ditengarai menjadi faktor pemicu keretakan hubungan ini.
Meskipun sempat bersatu melawan pemberontak Houthi di Yaman pada 2015, koalisi kedua negara tersebut akhirnya mengalami perpecahan di akhir Desember.
Ketegangan memuncak ketika pihak Saudi melakukan serangan udara terhadap pengiriman senjata yang dituding menuju kelompok separatis dukungan UEA.
Lembaga riset Rystad Energy menilai bahwa mundurnya UEA akan membawa perubahan fundamental bagi kekuatan kolektif para produsen minyak.
Baca Juga: Iran Absen di Rapat FIFA karena Masalah Visa, Keikutsertaan di Piala Dunia 2026 Masih Tanda Tanya
“Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari, dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, benar-benar mencabut alat utama dari tangan kelompok tersebut,” tegas Jorge Leon dari Rystad Energy.
Jorge menambahkan bahwa bagi produsen dengan biaya rendah, sistem kuota kini dianggap sebagai penghambat keuntungan finansial di saat permintaan mendekati puncak.
“Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, kalkulasi bagi produsen dengan barel berbiaya rendah berubah cepat, dan menunggu giliran di dalam sistem kuota mulai terlihat seperti membiarkan uang tertinggal di atas meja,” lanjutnya.
Kondisi ini memaksa Arab Saudi untuk bekerja lebih keras sendirian dalam menjaga stabilitas harga tanpa bantuan tenaga cadangan dari UEA.
“Arab Saudi sekarang dibiarkan melakukan lebih banyak beban berat dalam stabilitas harga, dan pasar kehilangan salah satu dari sedikit peredam guncangan yang tersisa,” pungkas Leon.
Kini, pasar energi internasional harus bersiap menghadapi volatilitas baru tanpa kepastian koordinasi dari salah satu pemain paling ambisius di dunia.
Prahara ini bermula dari akumulasi ketegangan antara keinginan Uni Emirat Arab untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional dan aturan kuota ketat yang ditetapkan OPEC+.
Di sisi lain, eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menciptakan ketidakpastian jalur distribusi energi di Selat Hormuz.
Ketidakharmonisan hubungan diplomatik antara UEA dan Arab Saudi dalam kebijakan regional di Yaman turut mempercepat keputusan Abu Dhabi untuk keluar dari organisasi yang telah mereka tempati selama lebih dari lima dekade.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Inovasi di TPA Supit Urang: Saat Sampah Plastik Malang Disulap Jadi Solar Pembakar Mesin
-
Mengenal 6 Jenis Tekstur Sunscreen dan Fungsinya, Ini Panduan agar Tak Salah Pilih
-
Raksasa Elektronik Jepang Ekspansi ke Sektor Kesehatan
-
Duka di Tambakberas: Gus Rokib Sang Penjaga Api Perjuangan KH Wahab Hasbullah Berpulang
-
Roberto Mancini Umbar Janji Manis, Targetkan Dua Trofi Juara untuk Italia
-
Fasilitas Gas Alam AS Diduga Diserang Drone Iran, Donald Trump: Saatnya Pembalasan!
-
5 Pilihan Warna Lipstik yang Tidak Bikin Pucat untuk Kulit Kuning Langsat
-
Investor Asing Soroti Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Pengganti Gubernur BI Harus Berpengalaman
-
Awet 16 Jam! Ini Cara Pakai Maybelline Superstay Matte Ink biar Flawless
-
The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Mendadak Malah Panik dan Bingung!