Suara.com - Lebih dari sepekan, empat WNI menjadi sandera bajak laut Somalia. Sejak penyergapan pada Selasa (21/04), upaya negosiasi uang tebusan masih berlangsung. Kementerian Luar Negeri pun mengklaim terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di wilayah Somalia.
Kasus penyanderaan warga Indonesia di Somalia bukan pertama kali terjadi. Pemerintah pernah melakukan pembebasan sandera awak kapal Sinar Kudus pada 2011 silam. Hal ini menjadi penanda bersejarah bagi Indonesia dalam misi di luar negeri.
Kali ini, insiden penyanderaan menimpa Kapal tanker MT Honour 25 yang berisi 17 pelaut. Mereka terdiri dari empat WNI yakni, Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, serta Fiki Mutakin asal Bogor. Sisanya, 11 warga Pakistan, satu warga Sri Langka dan juga satu warga India.
Beberapa pakar menilai bahwa kemunculan bajak laut atau perampk Somalia tidak lepas dari pengaruh konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Di tengah atensi dunia terhadap konflik di Timur Tengah, insiden serangan kapal di perairan Somalia justru kembali terjadi setelah beberapa tahun terakhir mulai mereda.
Somalia sendiri merupakan sebuah negara yang terletak di kawasan Tanduk Afrika. Tepatnya berada di sebelah Timur Afrika, Samudra Hindia, dan Teluk Aden. Sejak beberapa dekade, perairan Somalia terkenal dengan perampok kapal yang meresahkan. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi?
Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia?
Diketahui, Somalia mempunyao pantai terpanjang di Afrika. Meski demikian, orang Somalia tidak pernah mengeksploitasi potensi maritimnya karena sejumlah alasan.
Dari laporan yang beredar, sektor penangkapan ikan di Somalia tergolong kecil dan kurang berkembang. Hal ini kemudian mengakibatkan, kapal asing 'menggantikan' peran nelayan lokal di perairan Somalia hingga 70 tahun lamanya
Katena banyaknya kapal asing yang keluar masuk ke Somalia, populasi ikan di laut mulai berkurang dan menimbulkan kerusakan pada habitat laut melalui pukat dasar atau bottom trawl. Kerusakan habitat ini dipicu oleh limbah nuklir dan beracun yang sengaja dibuang ke perairan tersebut.
Keadaan nelayan dan sejumlah masyarakat yang bermasalah, mendorong orang-orang Somalia untuk mencoba cara baru dalam menghasilkan uang untuk mendukung mata pencaharian mereka.
Baca Juga: Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia
Para nelayan memutuskan untuk menggandeng milisi dan pemuda pengangguran. Mereka pun mulai merealisasikan ide untuk membajak kapal asinh dan meminta uang tebusan. Hal itulah yang menjadi awal dari pembajakan di Somalia.
Melansir Marine Insight, sejak tahun 1990an, pembajakan di wilayah Somalia terus mengalami peningkatan. Hal itu dipicu oleh lemahnya pengawasan pemerintah, ketidakstabilan politik, kurangnya lapangan pekerjaan, kecilnya layanan pendidikan dan kesehatan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindak kriminal.
Tak sedikit perusahaan pelayaran yang menjalin kerja sama dengan geng kriminal dan bajak laut, sehingga makin memperkuat akar pembajakan Somalia di Samudera Hindia.
Hal serupa juga pernah diungkap oleh mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla yang menyebut bahwa praktik bajak laut Somalia diakibatkan karena masyarakat tidak dapat memanfaatkan SDA laut akibat IUU Fishing.
Sejak meningkatnya aktivitas perompak di Somalia, rata-rata kapal luar negeri mempersenjatai diri dan menyewa keamanan swasta. Komunitas internasional pun gencar mencari solusi jangka panjang.
Tidak hanya memulihkan otoritas serta kredibilitas pemerintah pusat, tetapi mereka juga memikirkan lapangan kerja bagi pemuda melalui organisasi non-pemerintah, badan-badan PBB, serta pemerintah regional ataupun lokal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Studi CISDI: 9 dari 10 Makanan Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak
-
KPK 'Skakmat' Ancaman Gugatan Rp300 Triliun Noel: Fokus Sidang, Jangan Membangun Opini!
-
Periksa Suami Fadia Arafiq, KPK Telusuri 'Jalur Panas' Uang di Perusahaan Keluarga
-
Lawan KPK, Noel Ancam Gugat Rp 300 Triliun: 'Tak Ambil Satu Rupiah Pun, Semua untuk Buruh!'
-
KPK Bidik Peran Suami Fadia Arafiq di Pusaran Korupsi Proyek Outsourcing Pekalongan
-
Usut Tragedi Bekasi Timur: Usai Sopir Taksi Green SM, Besok Giliran Masinis Diperiksa Polisi
-
Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia
-
10 Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal
-
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK
-
Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci