Suara.com - Indonesia diproyeksikan menciptakan 6,31 hingga 10,19 juta lapangan kerja hijau pada 2060. Namun, riset Koaksi Indonesia mengungkap paradoks di sektor ini, meski jumlah lulusan melimpah, tetapi industri masih kesulitan mengisi posisi teknis kunci.
Temuan ini dipaparkan dalam diseminasi riset bertajuk "Kesiapan Pasar Tenaga Kerja dalam Pengembangan Green Jobs" yang digelar di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Studi terhadap 15 perusahaan energi terbarukan menunjukkan bahwa 12 perusahaan sebenarnya menilai lulusan saat ini sudah masuk kategori siap secara formal. Namun, fakta di lapangan menunjukkan 8 dari 15 perusahaan tersebut justru mengaku kesulitan melakukan rekrutmen untuk jabatan operasional yang krusial.
Manajer Kebijakan dan Advokasi Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan, menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada perbedaan antara kesiapan formal dan operasional.
“Tenaga kerja siap, tapi sulit direkrut. Lulusan pendidikan formal memiliki ijazah relevan, namun sering kali gagal memenuhi standar operasional industri karena kurangnya kedalaman keterampilan teknis (depth of skills) dan logika teknik untuk memecahkan masalah nyata di lapangan,” ungkapnya.
Lulusan Politeknik, S1 maupun S2 sering kali belum dibekali pengalaman praktis memadai di bidang energi terbarukan. Akibatnya, terjadi mismatch atau ketidakcocokan keterampilan yang akhirnya menghambat penyerapan tenaga kerja. Padahal, Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025–2060 memproyeksikan lonjakan kapasitas pembangkit listrik hingga 687,75 GW yang secara teoritis membutuhkan jutaan pekerja baru.
Posisi spesialis saat ini menjadi hambatan besar karena keterbatasan pengalaman tadi dan sertifikasi domestik yang minim, contohnya seperti 'certified design engineer'. "Ketidakpastian regulasi terkait sistem kuota instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya juga menghambat kemampuan perusahaan dalam merencanakan pengembangan sumber daya manusia secara jangka panjang," tambahnya.
Untuk menjembatani celah ini, Aziz menyampaikan bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri kini menjadi sebuah keharusan. Industri perlu berbagi wawasan mengenai kebutuhan nyata di lapangan, sementara mahasiswa didorong untuk tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga mengasah logika teknik melalui proyek nyata. "Pendidikan harus didorong, begitupun di industri, mana yang sesuai," tutup Azis.
Penulis: Vicka Rumanti
Baca Juga: 1 Lowongan Dilamar 12 Orang, Ini Kondisi Nyata Pasar Kerja Indonesia 2026
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
BRI Perkuat UMKM Kepulauan Talaud Lewat Dedikasi Mantri BRI
-
Mantri BRI Tempuh Perjalanan Antardesa untuk Dampingi UMKM di Kepulauan Talaud
-
Venom Audio Hadirkan Head Unit Berbasis ChatGPT dan Produk Terbaru di GIIAS 2026
-
Tolak Suap Rp1 Miliar, Eks Wakapolri Oegroseno Buka-bukaan Soal Kasus Tanah Sepolwan
-
Menjangkau Pelosok Talaud, Mantri BRI Perkuat Perekonomian Masyarakat Lewat Pendampingan UMKM
-
1 Agustus Hari Apa? Ini Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional
-
WIND UP: The Movie Membuktikan Olahraga Bukan tentang Kemenangan Semata
-
3 Serum Wardah untuk Kulit Kering dan Kusam yang Cocok Dipakai Sehari-hari
-
UMKM Antre Ajukan KUR Perumahan, Kuota Dinaikkan Jadi Rp50 Triliun
-
Modus Terbongkar! Bea Cukai Gagalkan Ekspor 3,4 Ton Merkuri Disamarkan Keramik Senilai Rp17,5 Miliar