- Staffinc mencatat pergeseran tuntutan industri 2025-2026 yang mengharuskan tenaga kerja memberikan kontribusi langsung bagi performa bisnis perusahaan.
- Perusahaan kini mengintegrasikan teknologi AI Interviewer untuk meningkatkan efisiensi serta konsistensi seleksi kandidat dalam skala yang lebih besar.
- Staffinc akan meluncurkan Industry Center pada kuartal kedua 2026 sebagai wadah kolaborasi strategis bagi para mitra industri.
Suara.com - Perkembangan kebutuhan tenaga kerja lintas industri kian mengalami perubahan signifikan. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, perusahaan penyedia solusi ketenagakerjaan Staffinc mencatat adanya pergeseran tuntutan, di mana tenaga kerja tidak lagi hanya dituntut siap kerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi langsung terhadap kinerja bisnis.
Tren ini terlihat dari penguatan kapabilitas di sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) serta meningkatnya ekspektasi terhadap kualitas dan kesiapan tenaga kerja di berbagai industri. Perubahan ini mencerminkan kebutuhan bisnis yang semakin kompleks, terutama dalam menghadapi distribusi multi-channel dan tuntutan layanan yang cepat serta konsisten.
Fenomena tersebut sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk The Future of Jobs Report 2023 yang menyebutkan sekitar 44 persen keterampilan pekerja perlu diperbarui dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih fokus pada tenaga kerja yang adaptif, produktif, dan mampu berkontribusi langsung terhadap hasil bisnis.
Chief Commercial Officer Staffinc, Margana Mohamad, mengatakan bahwa perusahaan kini tidak bisa lagi memandang tenaga kerja sebatas kebutuhan operasional semata.
“Banyak perusahaan masih melihat tenaga kerja sebagai kebutuhan operasional. Padahal di lapangan, mereka adalah faktor penentu eksekusi yang berdampak langsung pada hasil bisnis. Tantangannya bukan hanya soal ketersediaan, tetapi bagaimana memastikan kualitas dan konsistensi kinerja,” ujarnya.
Menanggapi tren tersebut, Staffinc menyiapkan sejumlah fokus strategis untuk 2026. Salah satunya adalah memperkuat pengukuran kinerja tenaga kerja serta mengintegrasikan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses rekrutmen.
Langkah ini sebelumnya juga disampaikan dalam acara buka bersama yang digelar pada Maret 2026 di Ritz-Carlton Jakarta, yang dihadiri lebih dari 200 mitra industri dari berbagai sektor, termasuk PT HM Sampoerna Tbk., LG, dan Coca-Cola Europacific.
Dalam implementasinya, Staffinc mengembangkan sistem AI Interviewer, sebuah teknologi berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan konsistensi proses seleksi kandidat. Teknologi ini memungkinkan proses wawancara dilakukan dalam skala besar, jauh melampaui metode konvensional.
Jika secara manual seorang recruiter hanya mampu mewawancarai sekitar 5 hingga 10 kandidat per hari, melalui AI Interviewer proses tersebut dapat menjangkau ratusan hingga ribuan kandidat dalam waktu yang sama tanpa keterbatasan kapasitas.
Baca Juga: Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja secara lebih presisi sekaligus mengurangi potensi hambatan dalam operasional.
Selain penguatan teknologi, Staffinc juga berencana memperluas kolaborasi dengan mitra industri melalui berbagai program sepanjang 2026. Program tersebut mencakup diskusi lintas sektor, sesi komunitas, hingga forum kepemimpinan yang membahas tren dan praktik terbaik dalam pengelolaan tenaga kerja.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Staffinc juga akan menghadirkan Staffinc Industry Center yang dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2026. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi pelaku industri untuk berbagi wawasan, mendiskusikan tantangan operasional, serta mengembangkan strategi baru dalam pengelolaan tenaga kerja.
Melalui berbagai langkah tersebut, Staffinc menegaskan posisinya tidak hanya sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada kinerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
Pilihan
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
-
Perang Terbuka! AS Klaim Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
Terkini
-
Kubu Nadiem Hadirkan 3 Petinggi Google dari Singapura sebagai Saksi di Sidang Kasus Chromebook
-
Donald Trump Cari Musuh Baru! Washington Ancam Kuba: Bebaskan Tapol atau Kami Serang
-
Noel Sebut Irvian Bobby Tak Layak Jadi Saksi Mahkota: Perannya Paling Berat, Harus Dihukum Mati!
-
3 Fakta Kapal Touska Iran yang Diserang dan Disita AS di Laut Oman
-
Kabur Saat Teror Penembakan di Supermarket Kyiv, Dua Polisi Ini Bernasib Apes
-
Toilet Ramah Lingkungan Jadi Biang Kerok 4000 Tentara AS Ngantri BAB di Kapal Induk
-
Terkuak! Motif Pelaku Habisi Nyawa Nus Kei, Dendam Kesumat Pembunuhan Bekasi 2020
-
24 Jam Penuh Gejolak di Selat Hormuz, Apa Saja yang Terjadi?
-
Alasan Kesehatan, Nadiem Minta Hakim Kabulkan Permohonan Penangguhan Penahanan
-
Sumpah Serapah Militer Iran! Segera Merespons Usai Kapal Perusak AS Berulah