News / Internasional
Kamis, 30 April 2026 | 12:58 WIB
Donald Trump mendesak Benjamin Netanyahu membatasi serangan militer Israel di Lebanon demi menjaga stabilitas kawasan. (Tangkapan Layar X)
Baca 10 detik
  • Trump perintahkan Israel lakukan serangan militer terbatas di Lebanon untuk menjaga citra negara.

  • Gencatan senjata Lebanon terancam runtuh akibat provokasi Hezbollah dan serangan balasan Israel.

  • Amerika Serikat desak Israel menahan diri demi membuka ruang negosiasi damai tingkat tinggi.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah tegas untuk mengendalikan eskalasi militer Israel di wilayah perbatasan Lebanon.

Trump secara langsung memerintahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar hanya melakukan operasi militer yang bersifat sangat terukur.

Langkah ini diambil guna mencegah pecahnya perang skala penuh yang dapat merusak citra internasional Israel di mata dunia.

Israel serang Lebanon (Antara)

Peringatan ini muncul di tengah rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah diupayakan oleh pihak Gedung Putih.

Kegagalan menjaga stabilitas ini dikhawatirkan akan memicu kehancuran total sebelum masa berlaku kesepakatan berakhir Mei mendatang.

Trump secara eksplisit menyatakan keberatannya terhadap metode penghancuran bangunan yang dilakukan oleh militer Israel selama ini.

Serangan Israel ke Lebanon (Antara)

"Saya katakan kepada Netanyahu dia harus melakukannya dengan lebih bedah. Jangan merobohkan gedung-gedung. Dia tidak bisa melakukannya. Itu terlalu mengerikan dan membuat Israel terlihat buruk," ujar Trump kepada Axios.

Sikap keras kepala Netanyahu yang ingin memperluas serangan dibatasi oleh koridor diplomasi ketat dari pemerintah Amerika Serikat.

Meskipun pejabat Israel merasa frustrasi dengan batasan tersebut, Trump tetap berpegang pada visi pemulihan kondisi negara Lebanon.

Baca Juga: Palestina Ajukan Banding ke CAS Lawan Keputusan FIFA Terkait Klub Israel di Wilayah Pemukiman Ilegal

Trump meyakini bahwa keterpurukan Lebanon saat ini merupakan akibat langsung dari pengaruh destruktif yang disebarkan oleh Iran.

Gedung Putih menuding Hezbollah sebagai pihak utama yang mencoba menyabotase upaya perdamaian yang tengah dibangun.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengklaim bahwa kelompok tersebut sengaja memicu provokasi agar negosiasi dengan pemerintah Lebanon gagal.

"Strategi Hezbollah sudah jelas: memprovokasi, menyerang, dan kemudian menyalahkan Israel untuk mematikan negosiasi dan membuat pemerintah Lebanon terlihat buruk. Kami tidak bisa mengharapkan Israel hanya menerima pukulan begitu saja. Ini bukan pemerintahan Biden," kata pejabat tersebut.

Namun di sisi lain, pemerintah Trump menuntut Israel untuk tetap menahan diri guna memberikan ruang bagi proses diplomatik.

Amerika Serikat berencana mempercepat penguatan Angkatan Bersenjata Lebanon agar mampu mengambil alih kendali dari tangan kelompok bersenjata.

Load More