Suara.com - Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+. Keputusan ini berdampak besar bagi kelompok produsen minyak tersebut, apalagi kini dunia tengah menghadapi krisis energi.
OPEC sendiri adalah organisasi negara penghasil minyak utama yang pertama kali dibentuk pada tahun 1960 oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan juga Kuwait. UEA resmi bergabung tujuh tahun setelah itu. Sejak saat itu, OPEC konsisten mengoordinasikan kebijakan produksi untuk memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia.
Tujuan OPEC dibentuk tak lain untuk menjaga harga minyak tetap tinggi supaya negara-negara anggota memperoleh keuntungan maksimal dari sumber daya alamnya. Di sisi lain, harga minyak juga tetap dijaga supaya tidak menyebabkan resesi di negara konsumen ataupun menghambat aktivitas energi global.
Adapun keputusan UEA hengkang dari keanggotaan OPEC tersebut muncul usai berminggu-minggu serangan rudal dan drone oleh sesama anggota, Iran, yang secara masif menghambat ekspor minyak UEA melalui Selat Hormuz. Meski begitu, Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, dalam wawancaranya menyatakan bahwa keluarga UEA pada Jumat besak ini dipilih demi membatasi gangguan bagi sesama produsen di dalam kelompok tersebut.
Uni Emirat Arab turut menegaskan bahwa, lepasnya mereka dari OPEC juga keinginan negara agar lebih bebas dalam mengambil keputusan produksi tanpa hambatan dari OPEC. Hal tersebut dilakukan demi mencapai target kapasitas 5 juta barel per hari pada tahun 2027 mendatang.
Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Keputusan yang mulai berlaku pada 1 Mei tersebut menjadikan OPEC harus kehilangan produsen minyak terbesar ketiganya. Dampak terbesar yang akan dirasakan yaitu melemahkan pengaruh OPEC atas pasokan serta harga minyak global.
Selain itu, keluarnya salah satu anggota terlama OPEC tersebut juga berpotensi melemahkan solidaritas internal organisasi. Sebab, selama ini mereka kerap menutupi perbedaan pandangan antaranggota tentang geopolitik dan kebijakan kuota produksi.
Keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC juga berpotensi meningkatkan risiko perang harga, serta menggerakkan harga minyak dunia lantaran UEA bisa bebas meningkatkan produksi. Bagi Indonesia, kepurusan ini dapat menjadi sentimen campuran antara harga minyak berpotensi turun karena kelebihan pasokan, tetapi volatilitas pasar bisa meningkat.
Baca Juga: BRI Cetak Laba Rp15,5 Triliun pada Triwulan I 2026, Total Kredit Rp1.562 Triliun
Berikut ini adalah dampak mendetail keluarga UEA dari OPEC bagi Indonesia:
1. Potensi Harga BBM Lebih Kompetitif
Apabila UEA meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan di luar batas kuota OPEC, maka pasokan minyak global diperkirakan bisa meningkat. Hal ini lantas berpotensi menurunkan harga minyak mentah internasional. Selain itu, juga dapat meringankan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia apabila harga jual lokal bisa disesuaikan.
2. Peningkatan Risiko Pasar
Keluarnya UEA dari OPEC dapat menciptakan ketidakpastian serta ketegangan di wilauaj Timur Tengah (seperti konflik di Selat Hormuz). Kejadian ini bisa memicu gejolak harga yang tak terduga (volatile) di seluruh dunia termasuk Indonesia.
3. Pergeseran Kemitraan Energi
Berita Terkait
-
BRI Cetak Laba Rp15,5 Triliun pada Triwulan I 2026, Total Kredit Rp1.562 Triliun
-
Empat Pemain Dewa United Dipanggil Timnas Indonesia, Jan Olde: Semoga Beruntung
-
Pemain yang Gacor di Super League tapi Belum Dilirik John Herdman, Siapa Saja?
-
Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Plus Minusnya?
-
BRI Debit FC Barcelona Hadirkan Pengalaman Belanja Eksklusif untuk Para Fans
Terpopuler
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- 7 Aturan Feng Shui Kamar Tidur yang Baik untuk Rezeki
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
-
PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025
-
Heboh Mobil Terpasang Alat Pelacak, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Dituding Terlibat Aktor Politik Praktis
-
Al-Qaqa Ibn Antar, Spiderman Yaman Tewas Mengenaskan di Kawah Hardah
-
Menlu Abbas Araghchi: Kesepakatan Damai AS - Iran Satu Paket dengan Israel - Lebanon
-
KPK Temukan Sederet Proyek Strategis Jakarta Tak Optimal, Ini Daftarnya
-
Iran Tegaskan Israel Terikat Kesepakatan Damai dengan AS, Soroti Penarikan Pasukan dari Lebanon
-
KPK Pelototi Proyek Strategis DKI Jakarta Senilai Rp 4,25 Triliun
-
Sasar Pekerja Billboard, Tukang Cat Duko di Salemba Diciduk usai Aksi Pemerasannya Viral
-
WNA Ribut dan Diseret di Terminal 3 Soetta! Polisi Sampai Panggil Penerjemah Mandarin untuk Mediasi