News / Internasional
Kamis, 30 April 2026 | 16:18 WIB
Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengunggah peta editan di Truth Social yang mengubah nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump.
  • Tindakan tersebut dilakukan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan tersendatnya negosiasi nuklir dengan Iran.
  • Gangguan jalur ekspor melalui Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia melonjak signifikan hingga menembus US$126 per barel.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah mengunggah gambar editan yang mengganti nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump di platform Truth Social.

Aksi itu muncul di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan tersendatnya negosiasi nuklir antara AS dengan Iran.

Unggahan tersebut menampilkan peta kawasan dengan nama jalur pelayaran strategis dunia itu diubah menjadi Trump Strait alias Selat Trump.

Menariknya, ini bukan pertama kalinya Trump melontarkan istilah tersebut.

Dalam sebuah acara di Miami sekitar sebulan lalu, Trump sempat bercanda soal nama itu.

“Iran harus membuka Selat Trump, maksud saya Hormuz. Maaf, saya sangat menyesal. Kesalahan yang mengerikan,” kata Trump dilansir dari USA Today.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah mengunggah gambar editan yang mengganti nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump di platform Truth Social. [Istimewa]

Namun ia kemudian menegaskan bahwa pernyataan itu bukan sekadar keseleo lidah.

“Media palsu akan bilang saya salah bicara. Tapi tidak, bagi saya tidak ada yang namanya salah bicara,” ujarnya.

Di tengah kontroversi itu, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak 2022 akibat gangguan parah pada jalur ekspor energi melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Perang Iran Berakhir? USS Gerald Ford Pulang Kandang Setelah 300 Hari di Laut

Menurut CNBC, harga minyak Brent naik hampir 7 persen dan menyentuh US$126,10 per barel, sementara minyak mentah WTI Amerika Serikat naik lebih dari 3 persen ke US$110,24 per barel.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz kini tinggal sekitar 4 persen dari kapasitas normal akibat blokade Amerika Serikat dan mandeknya perundingan dengan Iran.

Sehari sebelumnya, laporan media AS menyebut pemerintahan Trump berencana melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mempertahankan tekanan militer hingga tercapai kesepakatan nuklir baru yang lebih luas.

Trump juga mengunggah gambar dirinya memegang senjata dengan latar asap perang disertai pesan, No More Mr. Nice Guy atau Tak Ada Lagi Tuan Baik Hati.

Load More