- Brigjen Pol Faizal menyoroti rendahnya disiplin pengguna jalan yang memacu kendaraan saat tanda peringatan perlintasan kereta berbunyi.
- Kebiasaan berbahaya ini memicu kecelakaan lalu lintas, termasuk insiden taksi daring yang tertabrak KRL di wilayah Bekasi Timur.
- Korlantas Polri menekankan pentingnya kesadaran serta kepatuhan pengguna jalan di titik rawan guna mencegah kecelakaan fatal secara nasional.
Suara.com - Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol Faizal, menyoroti rendahnya disiplin pengguna jalan di Indonesia sebagai salah satu faktor utama terjadinya kecelakaan di perlintasan sebidang.
Ia menyebut masyarakat Indonesia sering kali memiliki kebiasaan berbahaya, yakni memacu kendaraan lebih cepat saat tanda peringatan mulai berbunyi.
Hal itu disampaikan Faizal pasca adanya kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Sebelum terjadinya kecelakaan tersebut, diduga diawali adanya mobil taksi online yang tertabrak KRL.
Faizal mengibaratkan perilaku ini dengan kebiasaan di lampu lalu lintas. Menurutnya, ada perbedaan pemahaman yang fatal antara aturan internasional dengan perilaku nyata di jalanan Indonesia.
"Kuning itu sebenarnya persiapan untuk berhenti. Tapi di Indonesia, kuning itu persiapan untuk digas, ‘ayo cepat-cepat!’. Nah, itulah mungkin bedanya kita sama di luar negeri. Kalau di kita, digas," ujar Faizal dalam sebuah diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Hal serupa juga terjadi di perlintasan kereta api. Faizal merasa heran karena ketika alarm perlintasan sudah berbunyi "teng tong", pengguna jalan justru sering kali menambah kecepatan alih-alih menginjak rem.
Bahkan, ia kerap menemukan warga yang nekat mengangkat sendiri palang pintu yang sudah tertutup demi bisa melintas.
"Pengguna jalan lain harus kita berikan edukasi. Kalau sudah bunyi ‘teng tong’, bukannya berhenti tapi tambah digas. Bahkan ada yang palang sudah ditutup, diangkat sama dia. Mohon maaf nih, kadang-kadang kaum paling kuat ini, emak-emak yang sering begini, diangkat sama dia," katanya.
Faizal juga memperingatkan kondisi di beberapa titik perlintasan yang sangat rawan, salah satunya di Kebon Pedes, Bogor.
Baca Juga: 10 Jam Terjepit di Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Meninggal
Ia menilai perlintasan tersebut memiliki elevasi jalan yang curam dengan frekuensi kereta yang sangat padat setiap lima menit.
"Itu saya lihat sendiri, naiknya tinggi sekali dan sangat padat. Ini tinggal menunggu waktu saja sebenarnya. Jangan sampai nanti kalau sudah ada kejadian lagi baru kita ribut lagi. Harusnya dari sekarang kita mulai (dibenahi), termasuk di daerah-daerah," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa masalah keselamatan ini adalah isu nasional. Saat ini, Korlantas Polri tengah melakukan olah TKP atas kecelakaan serupa di Blitar, serta memantau titik-titik rawan di Sumatra hingga Sulawesi.
Faizal menekankan bahwa kunci keselamatan adalah perpaduan antara kesadaran dan kepatuhan.
Ia meminta masyarakat untuk disiplin demi keselamatan diri sendiri, tanpa harus menunggu ada petugas kepolisian yang berjaga.
"Kita harus menyadari bersama bahwa kadang-kadang memang kita sadar tapi tidak patuh dan taat. Sadar iya, tapi tidak patuh ya percuma. Yang paling penting itu sadar, patuh, dan taat. Tidak perlu harus ada petugas atau polisi, karena itu untuk kepentingan pribadi kita sendiri," pungkasnya.
Berita Terkait
-
10 Jam Terjepit di Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Meninggal
-
Polemik Gerbong Wanita KRL, KAI Tegaskan Belum Ada Perubahan
-
Tak Terluka, Korban KRL Bekasi Meninggal Diduga Syok di Ambulans: Ini Kesaksian Sang Anak
-
Pasca Kecelakaan Bekasi, DPR Usul Kabin Masinis Dilengkapi Monitor CCTV Pantau Jalur 2 Km ke Depan
-
Dramatis! Tim SAR Ungkap Proses Evakuasi Korban Terhimpit di KRL, Disuplai Oksigen dan Suntik Kebal
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
WhatsApp Hadirkan Panggilan Langsung di Browser, Meta Perluas Inovasi Komunikasi Tanpa Aplikasi
-
Dukung Lingkungan Bersih, BRI Serahkan Bantuan Truk Sampah ke Kodam IX/Udayana
-
BPDP Ungkap 41% Industri Sawit Nasional Dikelola Rakyat Langsung, Serap 16,5 Juta Tenaga Kerja
-
Perkuat Ekosistem Mode Nasional, BTN Dorong Pertumbuhan Sektor Kreatif Lewat IFW 2026
-
Dari Ibu Penyayang ke Pembunuh Berdarah Dingin: Lindsay Clancy Habisi 3 Anak Kandung
-
Sawit RI Kerap Dihantam Black Campaign, Dianggap Ancaman Bisnis Global
-
Maraknya PHK di Emiten, Perusahaan Wajib Transparan ke Investor
-
Fujifilm Rilis Varian Baru Instax Mini 99 ke RI, Kamera Analog Premium Harga Rp 3,6 Juta
-
Ramalan 12 Shio Hari ini 30 Juli 2026: Shio Ayam Paling Hoki, Babi Harus Waspada
-
Inovasi di TPA Supit Urang: Saat Sampah Plastik Malang Disulap Jadi Solar Pembakar Mesin