-
India meningkatkan penggunaan batubara akibat gelombang panas ekstrem dan hambatan impor gas alam.
-
Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan gas dunia sehingga batubara menjadi alternatif utama.
-
Sektor pembangkit listrik dan industri semen di India kini sangat bergantung pada bahan fosil.
Suara.com - India kini terjepit dalam dilema antara komitmen iklim dan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas listrik nasional.
Gelombang panas yang menyengat serta ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah memaksa negara ini kembali ke energi fosil.
Dikutip dari CNBC, ketergantungan pada batubara meningkat tajam demi menghindari pemadaman listrik massal di tengah suhu yang mematikan.
Peralihan ini menunjukkan betapa rentannya ketahanan energi negara berkembang saat menghadapi guncangan harga gas dunia.
Data terbaru mencatat lonjakan produksi listrik dari pembangkit batubara secara signifikan selama periode krisis ini berlangsung.
Sekitar 60 persen kebutuhan gas alam cair India harus melewati Selat Hormuz yang kini rawan konflik.
Situasi tersebut menyebabkan harga gas melambung tinggi dan menjadi tidak ekonomis bagi sektor industri pembangkit.
“Jadi, tenaga listrik berbasis batubara perlu memikul beban yang lebih tinggi di bulan-bulan puncak musim panas ini,” kata Girish Madan, Direktur Pemeringkat Korporat di Fitch Ratings Singapura.
Ketidakpastian pengiriman gas membuat India tidak memiliki pilihan selain memaksimalkan stok energi domestik yang tersedia.
Baca Juga: Mitsubishi Fuso Kenalkan Skema Sewa eCanter untuk Dukung Logistik Ramah Lingkungan
Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa sumber energi ramah lingkungan belum mampu sepenuhnya menggantikan peran fosil.
Suhu udara yang mencapai lebih dari 45 derajat Celcius memaksa penggunaan pendingin ruangan bekerja ekstra keras.
Beban listrik yang meroket ini terjadi bersamaan dengan penurunan kapasitas operasional pembangkit listrik bertenaga gas.
“Kondisi gelombang panas, dengan pembacaan di atas 40-45 derajat C di beberapa tempat di India telah mengangkat permintaan listrik,” kata Andre Lambine dari S&P Global Energy.
Ketidakmampuan sektor energi baru terbarukan dalam menutup celah defisit energi membuat batubara tetap menjadi raja.
Jika fenomena iklim El Nino terus berlanjut, pertumbuhan penggunaan batubara diprediksi akan terus meningkat tajam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura
-
Mengapa Direktur Bus ALS Jadi Tersangka? Polisi Periksa 50 Saksi sebelum Naikkan Kasus ke Penyidikan
-
Polda Metro Jaya Siap Ladeni 'Serangan' Praperadilan Keempat Roy Suryo
-
Ada Anomali dalam Kebakaran BYD Seal di Cikampek, Investigasi Masih Berlangsung
-
30 Juta Cowok di China Jomblo, Mak Comblang Jadi Ladang Bisnis Cuan