-
India meningkatkan penggunaan batubara akibat gelombang panas ekstrem dan hambatan impor gas alam.
-
Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan gas dunia sehingga batubara menjadi alternatif utama.
-
Sektor pembangkit listrik dan industri semen di India kini sangat bergantung pada bahan fosil.
Bukan hanya sektor listrik, industri semen juga mulai meninggalkan petcoke akibat gangguan pasokan global.
Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga bahan bakar turunan minyak tersebut menjadi sangat mahal dan langka.
Analis Kpler, Firat Ergene, mengungkapkan bahwa permintaan tambahan terhadap batubara kini juga datang dari produsen semen.
Hal ini menciptakan tekanan ganda terhadap stok cadangan batubara nasional yang harus melayani listrik dan industri.
Situasi ini memperumit target pengurangan emisi karbon yang telah dicanangkan pemerintah India secara internasional.
Pemerintah India sebenarnya telah berkomitmen menurunkan intensitas emisi ekonominya sebesar 47 persen pada tahun 2035.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan energi rakyat saat ini jauh lebih mendesak dibandingkan target tersebut.
Meskipun kapasitas energi hijau terus bertambah, batubara masih mendominasi lebih dari 70 persen total pembangkitan listrik.
Transisi energi yang berkelanjutan tampaknya akan menghadapi jalan terjal selama krisis pasokan global belum mereda.
Baca Juga: Mitsubishi Fuso Kenalkan Skema Sewa eCanter untuk Dukung Logistik Ramah Lingkungan
Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan kini menjadi tantangan terbesar bagi New Delhi.
Krisis energi di India dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan gangguan rantai pasok global akibat konflik Iran di Timur Tengah.
Sebagai emiten karbon terbesar ketiga di dunia, India berada dalam tekanan untuk beralih ke energi bersih, namun tingginya biaya gas alam cair impor dan kebutuhan listrik saat gelombang panas memaksa mereka tetap bergantung pada batubara.
Meskipun ada komitmen menuju net-zero emisi pada 2070, realitas kebutuhan domestik saat ini masih didominasi oleh energi fosil yang lebih murah dan stabil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Harga Minyak Dunia Turun, Pemerintah Jelaskan Alasan Pertamax Belum Ikut Murah
-
Sony Sonjaya Ungkap Peran Nanik S Deyang Dalam Perkara Dugaan Korupsi MBG
-
Sony Sonjaya 'Bernyanyi', Dugaan Pengadaan CCTV Rp300 Miliar Muncul di Kasus MBG
-
Jadi Korban Hanania Grup, Uang Muka Haji Plus Davina Karamoy 10.000 USD Terancam Hangus
-
Kursi Dirut PLN Digoyang Isu Reshuffle, Danantara Beri Sinyal RUPSLB Digelar!
-
Hotel Sultan Dieksekusi, Dasco Minta Kemensetneg Akomodir Nasib Para Karyawan
-
KPK Tegaskan Tak Hentikan Penyelidikan Kasus MBG Meski Kejagung Sudah Tetapkan Tersangka
-
Usai 10 Jam Diperiksa, Sony Sonjaya Keluar dengan Kepala Tegak Tanpa Sepatah Kata
-
Direksi Baru BEI Langsung Temui DPR, Reformasi Pasar Modal dan Integritas Jadi Prioritas