News / Nasional
Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:33 WIB
Lokasi pertambangan (Pexels/Tom Fisk)

Suara.com - Permintaan nikel global untuk kebutuhan baja tahan karat dan teknologi energi bersih kini dinilai menghadirkan dilema baru bagi lingkungan.

Di satu sisi, nikel menjadi komponen penting dalam transisi menuju energi rendah emisi, terutama untuk baterai kendaraan listrik.

Namun di sisi lain, peningkatan aktivitas tambang disebut berisiko mengancam kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution.

Penelitian internasional itu menyoroti bahwa upaya mencapai target emisi nol bersih atau Net Zero dapat memicu tekanan ekologis baru apabila pengelolaan tambang mineral tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Peneliti dari The University of Queensland, Jayden Hyman, mengatakan nikel kini dibutuhkan di hampir seluruh sektor industri, mulai dari infrastruktur hingga baterai kendaraan listrik.

“Namun, keputusan yang dibuat sekarang tentang dari mana sumber nikel akan diperoleh dapat berdampak selama beberapa dekade di beberapa ekosistem yang paling kaya keanekaragaman hayati dan karbon di Bumi,” ujar Dr. Hyman.

Dilansir dari Phys.org, studi tersebut memperkirakan sekitar setengah pasokan nikel dunia pada 2050 akan berasal dari wilayah yang masuk dalam 10 persen area prioritas konservasi global.

Sebanyak 83 persen pasokan nikel juga diperkirakan berasal dari endapan laterit yang banyak berada di bawah kawasan hutan hujan tropis. Untuk mengakses cadangan tersebut, pembukaan lahan skala besar dinilai sulit dihindari, termasuk di Indonesia yang saat ini mengalami peningkatan aktivitas pertambangan nikel.

Baca Juga: Adu Inovasi Negara Berkembang! BRICS Industrial Innovation Contest 2026 Resmi Dimulai

Selain ancaman terhadap hutan, lokasi tambang yang berada di dekat wilayah pesisir juga disebut berpotensi mencemari ekosistem laut.

“Banyak dari endapan ini berada di dekat pantai. Ini berisiko mencemari perairan di sekitarnya, termasuk yang dikenal sebagai Segitiga Karang di utara Australia, yang terkenal sebagai salah satu wilayah laut dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia,” tambah Dr. Hyman.

Penelitian yang dikembangkan bersama University of Technology Sydney dan Sustainable Minerals Institute itu juga menunjukkan bahwa perlindungan terhadap kawasan ekologis paling sensitif memang dapat menekan risiko kerusakan lingkungan. Namun kebijakan tersebut diperkirakan dapat menyebabkan kekurangan pasokan nikel hingga 18 persen pada 2050 apabila tidak dibarengi pengembangan sumber alternatif.

Peneliti dari UTS, Stephen Northey, menilai model tersebut dapat membantu menentukan lokasi tambang baru yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi tanpa mengabaikan aspek konservasi.

Meski teknologi daur ulang terus dikembangkan, kebutuhan terhadap tambang baru disebut masih akan tetap tinggi dalam beberapa dekade mendatang.

Karena itu, para peneliti mendorong penerapan standar keberlanjutan yang lebih ketat di seluruh rantai pasok nikel agar transisi energi bersih tidak justru menciptakan kerusakan ekologis baru.

Load More