News / Nasional
Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:05 WIB
Afifuddin S. Kalla. (Ist)
Baca 10 detik
  • Calon Ketum BPP HIPMI Afifuddin Kalla mengisi kuliah umum bagi mahasiswa FIA UI di Depok pada Jumat, 8 Mei 2026.
  • Afi Kalla mendorong mahasiswa menggerakkan hilirisasi ekonomi melalui pengembangan Industri Kecil Menengah guna meningkatkan nilai tambah produk nasional.
  • Kegiatan ini bertujuan mengedukasi calon pengusaha muda mengenai strategi menghadapi tantangan bisnis demi memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia di masa depan.

Suara.com - Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) masa bakti 2026-2029, Afifuddin S. Kalla, memberikan kuliah umum di hadapan sivitas akademika Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Depok, Jumat (8/5/2026).

Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) XVIII HIPMI tersebut, sosok yang akrab disapa Afi Kalla ini menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam mendorong hilirisasi melalui pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Afi Kalla memaparkan, sinergi antara dunia akademik dan praktisi bisnis penting untuk memastikan program hilirisasi berjalan optimal hingga ke level industri terkecil.

Dia mendorong para mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam pusaran ekonomi global, melainkan aktif menciptakan terobosan yang mampu mengonversi bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi melalui sentuhan teknologi dan kreativitas.

“Kita harus membahas bagaimana pentingnya pengembangan Industri Kecil dan Menengah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mahasiswa harus mampu melahirkan inovasi yang mendorong hilirisasi agar ekonomi kita semakin kuat dan mandiri,” ujar Afi Kalla saat menyampaikan materi di hadapan ratusan peserta di Auditorium Gedung Lama FIA UI.

Dalam kesempatan itu, CEO Bukaka Group ini juga menjelaskan perbedaan mendasar antara UMKM dan IKM, dimana IKM lebih berfokus pada penciptaan nilai tambah melalui proses pengolahan bahan baku menjadi barang jadi.

Dia memberikan gambaran mengenai keberhasilan industri pengolahan di Korea Selatan yang mampu melampaui PDB Indonesia karena fokus pada nilai tambah, meskipun tidak memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti Indonesia.

Afi Kalla mengingatkan, meskipun target besar Indonesia membangun industri raksasa, fondasi utamanya tetap berawal dari skala kecil.

Menurut dia, industri besar seperti nikel atau sawit harus didukung oleh ekosistem IKM yang kuat sebagai penyerap tenaga kerja dan motor produktivitas.

Baca Juga: Panas! Ade Armando Batal Maaf ke Jusuf Kalla Jika Laporan Polisi Tak Dicabut

“Kita harus punya mimpi terhadap industri besar, tapi kita harus mulai dari yang kecil karena semua industri besar di Indonesia itu berasal dari industri kecil yang mungkin dimulai dari garasi atau tempat sewa yang sempit,” tutur alumni Fakultas Ekonomi UI angkatan 2003 tersebut.

Lebih lanjut, Afi Kalla mengidentifikasi empat tantangan utama pengusaha muda saat ini, yakni permodalan, riset yang seringkali hanya terhenti di meja akademisi, akses pasar, dan koneksi.

Sebagai solusi, dia membawa lima visi unggulan untuk HIPMI kedepan yang mencakup digitalisasi, kemudahan pendanaan, kemandirian ekonomi, peningkatan kualitas pengusaha serta penguatan jejaring organisasi.

Sementara Ketua HIPMI PT UI, Gafi Nasution, menyatakan hilirisasi merupakan program unggulan pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai target 8 persen sesuai visi Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran.

Dia melihat peluang besar pada sektor IKM yang saat ini memiliki kontribusi signifikan terhadap PDB nasional.

“Melalui kuliah umum ini, kami berharap rekan-rekan mahasiswa mendapatkan edukasi mendalam mengenai industri pengolahan agar siap menjadi pengusaha muda yang menjadi garda terdepan ekonomi Indonesia,” tutur Gafi Nasution.

Load More