Suara.com - Ruang terbuka publik idealnya dapat digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia, kemampuan fisik, maupun kondisi mobilitas. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan banyak ruang publik masih belum sepenuhnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna secara inklusif.
Laporan yang dikutip dari Phys.org menyebut ruang publik yang tidak ramah bagi pengguna dengan keterbatasan motorik, penglihatan, maupun kognitif dapat memicu tekanan psikologis dan membuat masyarakat enggan menggunakan fasilitas kota.
Karena itu, aksesibilitas tidak hanya dipahami sebagai penyediaan fasilitas dasar, tetapi juga menyangkut bagaimana ruang dirancang agar nyaman dan mudah dipahami oleh semua orang.
Dalam kajian arsitektur dan perencanaan kota, terdapat tiga dimensi utama untuk menilai apakah sebuah ruang publik telah inklusif, yakni kenyamanan, keterbacaan, dan kejelasan geometris.
Ketiga aspek tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan kota yang aman dan mudah diakses berbagai kelompok masyarakat, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Arsitek dan perencana kota asal Denmark, Jan Gehl, menekankan bahwa ruang yang baik bagi pejalan kaki harus memiliki tiga unsur utama, yaitu perlindungan, kenyamanan, dan daya tarik.
Perlindungan berkaitan dengan aspek keselamatan, seperti adanya pemisahan jalur pejalan kaki dengan kendaraan bermotor. Sementara itu, kenyamanan mencakup permukaan jalan yang rata, minim hambatan fisik, serta tersedianya fasilitas pendukung seperti bangku dengan pegangan tangan. Adapun daya tarik berkaitan dengan pengalaman sensorik pengguna, misalnya melalui pencahayaan yang baik dan keberadaan ruang hijau.
Menurut Gehl, desain seperti ini dapat membantu masyarakat lebih nyaman berjalan kaki dan memanfaatkan fasilitas kota. Dampaknya tidak hanya pada mobilitas, tetapi juga meningkatkan interaksi sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu contoh penerapan desain inklusif dapat ditemukan di Parc Safari, selatan Montréal, Kanada. Jalur pejalan kaki di kawasan tersebut dirancang dengan permukaan yang konsisten sehingga dapat digunakan dengan lebih mudah oleh pengguna kursi roda, kereta bayi, maupun lansia dengan keterbatasan mobilitas.
Baca Juga: Kemnaker Perkuat Dunia Kerja Inklusif Melalui Pendampingan Penyerapan Tenaga Kerja Disabilitas
Selain aspek fisik, persepsi manusia terhadap lingkungan juga menjadi perhatian penting dalam perencanaan kota. Peneliti tata kota Kevin Lynch mengidentifikasi lima elemen utama yang membantu seseorang memahami ruang kota, yaitu jalur, batas wilayah, lingkungan, simpul, dan penanda lokasi.
Konsep tersebut dikenal sebagai keterbacaan ruang. Bagi lansia atau individu dengan penurunan kemampuan kognitif, kejelasan jalur dan penanda lokasi dapat membantu mengurangi risiko tersesat serta memberikan rasa aman saat beraktivitas di luar rumah.
Para peneliti menilai desain ruang publik yang mempertimbangkan aspek kenyamanan dan keterbacaan menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh masyarakat dapat menggunakan fasilitas kota secara adil dan inklusif.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Eks PM Thailand Thaksin Shinawatra Bebas dari Penjara Lebih Awal
-
Kemendagri Gandeng KPK dan Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Antikorupsi
-
Sok Jago Hadang Ambulans di Depok, Pria Ini Langsung Ciut Saat Diciduk Polisi
-
Donald Trump Kesal Mahalnya Tiket Piala Dunia 2026: Saya Nggak Mau Beli
-
Langsung Kena Kritik, CFD Rasuna Said Bakal Diberlakukan dengan Penyesuaian Jam
-
Krisis Energi Global Mulai Hantam Industri AMDK, Apa Dampaknya Bagi Konsumen?
-
Sampah Pasar Bisa Jadi Pupuk Cuma 2 Jam, Jakarta Uji Teknologi Baru di Kramat Jati
-
DPRD DKI: Jakarta Calon Kota Global, Tidak Boleh Jadi Tempat Aman bagi Sindikat Judi Internasional
-
Mengapa Krisis Iklim Disebut Bisa Memperparah Penyebaran Hantavirus?
-
Donald Trump Ancam Hancurkan Siapa Pun yang Dekati Uranium Iran