News / Nasional
Senin, 11 Mei 2026 | 11:43 WIB
Ilustrasi air minum dalam kemasan (AMDK). (Pexels)
Baca 10 detik
  • Dinamika geopolitik global memicu kenaikan harga energi yang meningkatkan biaya produksi bahan baku plastik industri AMDK di Indonesia.
  • Kebijakan pembatasan angkutan logistik ODOL yang berlaku hingga 2027 menambah beban biaya distribusi bagi para pelaku industri nasional.
  • Tekanan biaya produksi dan distribusi tersebut berpotensi menyebabkan kenaikan harga jual produk AMDK kepada masyarakat konsumen di Indonesia.

Suara.com - Kenaikan harga minyak dan gas akibat dinamika geopolitik global mulai memberi tekanan besar terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur energi dunia disebut berdampak langsung pada naiknya biaya produksi, terutama bahan baku plastik untuk kemasan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menyebut industri AMDK memiliki peran strategis dalam menopang sektor manufaktur nasional.

Kontribusi industri ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 1,04 persen dan menjadi bagian penting dari industri makanan dan minuman nonmigas.

Menurut Agus, industri AMDK juga menyerap sekitar 46 ribu tenaga kerja langsung dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di Indonesia. Tingkat utilisasi industri yang berada di atas 70 persen dinilai mencerminkan stabilitas sektor tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Namun, kondisi itu kini mulai tertekan akibat kenaikan harga energi global. Lonjakan harga minyak dan gas berdampak pada industri petrokimia yang memproduksi bahan baku plastik sebagai komponen utama kemasan AMDK. Akibatnya, biaya produksi industri meningkat signifikan.

Di saat yang sama, industri juga menghadapi kenaikan biaya distribusi akibat kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL) yang ditargetkan berlaku penuh pada 2027. Kebijakan tersebut membuat kapasitas angkut menurun sehingga frekuensi perjalanan logistik meningkat.

Pengamat politik ekonomi Andreas Ambesa menilai kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi industri AMDK, yakni kenaikan biaya produksi dan distribusi secara bersamaan.

Menurut dia, situasi tersebut berpotensi memengaruhi harga jual produk di tingkat konsumen.

Baca Juga: Prabowo 'Pamer' Proyek 100 GW Surya RI di ASEAN, Ingatkan Ancaman Krisis Energi

“Pelaku industri berada dalam dilema klasik: menjaga keberlanjutan usaha atau mempertahankan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujar Andreas.

Ia mengatakan industri AMDK sangat sensitif terhadap perubahan biaya logistik dan energi karena memiliki jaringan distribusi yang luas. Jika tidak ada langkah mitigasi, tekanan biaya dikhawatirkan berdampak pada inflasi, terutama karena AMDK telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat perkotaan.

Menurut Andreas, pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara kebijakan jangka panjang dan kondisi industri di lapangan. Tanpa sinkronisasi kebijakan dan dukungan terhadap sektor strategis, tekanan global dan domestik berpotensi mengganggu stabilitas industri AMDK dalam jangka panjang.

Load More