- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat empat kasus Hantavirus selama tahun 2026 dengan rincian tiga orang sembuh dan satu suspek.
- Penularan Hantavirus di Indonesia terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran, air seni, atau air liur tikus yang terkontaminasi.
- Dinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan serta tetap waspada tanpa harus panik menghadapi penyebaran virus tersebut.
Suara.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat empat kasus Hantavirus di ibu kota sepanjang tahun 2026, dengan tiga pasien telah dinyatakan sembuh dan satu lainnya masih berstatus suspek.
"Tiga orang sudah sembuh dengan gejala ringan, sementara satu orang masih suspek karena penegakan diagnosisnya masih menunggu hasil laboratorium," ungkap Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, Senin (11/5/2026).
Hantavirus, lanjut Ani, bukan merupakan penyakit baru yang perlu ditakuti secara berlebihan seperti wabah pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
"Penularannya melalui tikus, bisa dari air liur, air seni, atau kotoran tikus yang terkontaminasi ke manusia," jelasnya.
Kata Ani lagi, varian Hantavirus yang mampu menular antarmanusia adalah jenis Andes, yang hanya ditemukan di Amerika Selatan.
"Sampai sekarang belum ada di Indonesia. Jadi, kasus yang ada di sini penularannya masih dari tikus ke manusia," paparnya.
Namun, pasien yang masih berstatus suspek tetap menjalani isolasi sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai bentuk kewaspadaan dini.
"Kalau kita menemukan suspek, prinsipnya dilakukan isolasi terlebih dahulu sampai hasil laboratorium keluar," urai Ani.
Dinkes DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rutin mencuci tangan, serta menggunakan masker dan alat pelindung saat berada di area yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Tak Tunggu Lonjakan Kasus Hantavirus Baru Bertindak
"Pengendalian tikus juga penting dilakukan," saran Ani.
Penting pula untuk masyarakat agar tidak panik karena penyakit ini, sekali lagi, telah lama berada dalam pemantauan otoritas kesehatan.
"Ini bukan penyakit baru dan selama ini terus dimonitor. Jadi tidak perlu panik, tetapi tetap waspada," pungkas Ani.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Kemendagri Siap Kawal Percepatan Pembangunan PSEL di Daerah
-
Sekjen Kemendagri Minta Pemda Atasi Kenaikan Harga Komoditas Cabai Merah
-
Penjelasan Resmi Dukcapil Soal Gaduh Larangan Serahkan KTP Saat Check-in Hotel
-
Gudang di Kalideres Meledak Beruntun, Diduga Dipenuhi Bahan Kimia dan Gas
-
BGN Wajibkan SPPG Tambah Penerima Manfaat 3B dalam 14 Hari atau Operasional Dihentikan
-
Bareskrim Sikat Jaringan Judi Online Internasional, DPR: Indonesia Tak Boleh Jadi Surganya Bandar
-
Donald Trump Sebut Proposal Damai Iran Sampah, Ancaman Perang Besar Menanti
-
Resmi! Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah
-
DPRD DKI Segel Parkir Ilegal Blok M Square
-
Nadiem Tegaskan Tanda Tangan Pengadaan Laptop Ada di Level Dirjen Kemendikbudristek