- Yayasan Konservasi Alam Nusantara menginisiasi program SIGAP sejak 2010 guna mendukung pembangunan ekonomi serta pelestarian lingkungan berbasis desa.
- Program ini diterapkan di Kalimantan Timur dan Utara melalui penguatan tata kelola desa, perhutanan sosial, dan pengembangan ekonomi lokal.
- Implementasi SIGAP berhasil menekan laju deforestasi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi aktif antara pemerintah dan penduduk desa.
Suara.com - Di tengah meningkatnya ancaman deforestasi dan krisis ekologis di berbagai wilayah Indonesia, sejumlah desa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mulai menunjukkan pendekatan pembangunan yang berbeda.
Melalui penguatan tata kelola desa dan pelibatan aktif masyarakat, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dinilai dapat berjalan beriringan.
Praktik tersebut mengemuka dalam kegiatan Ekspos Program SIGAP bertema “Simpul Hijau: Merayakan Kolaborasi Pembangunan Daerah dan Desa/Kampung” yang digelar di Yogyakarta, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan itu menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran dari praktik pembangunan hijau berbasis desa yang dijalankan di empat kabupaten, yakni Berau, Kutai Timur, Bulungan, dan Mahakam Ulu.
Pendekatan yang digunakan dikenal dengan nama SIGAP atau Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan. Program ini dikembangkan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sejak 2010 bersama pemerintah daerah dan sejumlah organisasi mitra.
SIGAP berfokus pada penguatan tata kelola desa, kepastian hak kelola sumber daya alam, termasuk melalui skema perhutanan sosial, serta pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani, mengatakan pembangunan berbasis desa seperti yang diterapkan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara menunjukkan arah ideal pengelolaan hutan berkelanjutan.
“Akses kelola hutan harus dibangun bersama tata kelola desa yang kuat. Ketika desa didampingi untuk merencanakan dan mengelola sumber daya alamnya, perhutanan sosial dapat menjadi instrumen nyata bagi perlindungan hutan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan SIGAP pertama kali diterapkan di dua desa di wilayah pinggir hutan Kabupaten Berau pada 2010. Program tersebut kemudian berkembang hingga menjangkau seluruh kampung di Berau melalui inisiatif SIGAP Sejahtera pada 2018.
Baca Juga: Bagaimana Hilangnya Hutan Tropis Memperparah Gelombang Panas Global?
Saat ini, SIGAP telah diterapkan di 100 desa dan kampung di Berau, 16 desa di Kutai Timur, 18 desa di Bulungan dengan target total 74 desa, serta delapan kampung di Mahakam Ulu dengan target 23 kampung. Model serupa juga mulai direplikasi di Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Barat Daya.
Bupati Bulungan, Syarwani, mengatakan pendekatan SIGAP membantu pemerintah daerah menyelaraskan agenda pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan.
“Bagi kami di Bulungan, menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa adalah dua agenda yang harus berjalan bersama,” katanya.
Hal serupa disampaikan Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk. Menurutnya, pendampingan masyarakat sekitar hutan melalui tata kelola berkelanjutan dan pengembangan komoditas lokal membantu menekan laju deforestasi.
Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyoroti keberadaan Akademi Kampung SIGAP (AKS) sebagai ruang belajar bersama antar desa untuk memperkuat kepemimpinan kampung yang lebih adaptif dan kolaboratif.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembangunan Indonesia Barat Kementerian PPN/Bappenas, Jayadi, menilai praktik pembangunan hijau dari desa-desa di Kalimantan penting menjadi referensi kebijakan nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana