-
Dokter Amerika dipindahkan dari ruang biokontainer setelah hasil tes hantavirus kapal pesiar tidak konsisten.
-
Wabah hantavirus pertama di kapal pesiar menyebabkan tiga kematian dan memicu karantina 42 hari.
-
WHO memperingatkan potensi penularan virus Andes antarmanusia meskipun risiko publik saat ini masih rendah.
Hasil Tes yang Saling Bertentangan
Polemik muncul saat hasil uji usap hidung yang dilakukan di luar negeri memberikan informasi yang sangat membingungkan. Satu hasil tes laboratorium di Belanda menyatakan negatif, sementara tes kedua justru menunjukkan hasil positif.
Ketidakkonsistenan data medis ini membuat pihak CDC Amerika Serikat harus melakukan intervensi dengan pengujian ulang.
“Tes awal yang kami terima berasal dari luar negeri dan hasilnya tidak meyakinkan,” ujar Dr. David Fitter dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
Kini Kornfeld sedang menunggu hasil validasi dari pengujian terbaru yang dilakukan setelah ia mendarat di Amerika. Ketidakjelasan hasil ini menjadi alasan utama mengapa ia sempat dikurung sendirian di unit biokontainer Nebraska.
Di tengah kesendiriannya, ia berusaha tetap menjaga kewarasan dengan berkomunikasi melalui teknologi digital dengan dunia luar.
“Agak aneh berada di sini sendirian, tapi perawat datang, dokter datang. Saya menggunakan WhatsApp sepanjang waktu. Sungguh menakjubkan betapa cepatnya waktu berlalu,” katanya.
Kornfeld sebelumnya merupakan bagian dari 120 orang yang dievakuasi secara massal dari kapal pesiar tersebut. Mereka diterbangkan ke berbagai negara untuk menjalani proses karantina sesuai dengan regulasi kesehatan internasional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hingga kini terdapat 11 kasus hantavirus yang terhubung langsung dengan kapal pesiar tersebut. Tragedi ini telah memakan korban jiwa sebanyak tiga orang, sementara delapan kasus lainnya sudah terkonfirmasi laboratorium.
Baca Juga: Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
Hantavirus umumnya menyebar melalui kotoran hewan pengerat, namun jenis virus Andes yang ditemukan kali ini memicu kekhawatiran penularan antarmanusia.
WHO mewajibkan seluruh penumpang menjalani karantina selama 42 hari untuk memutus rantai penyebaran yang mungkin terjadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
Terkini
-
Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II
-
81 Tahun Menanti, Warga Sipiongot Beri Tradisi Ini ke Bobby Nasution Usai Jalan Tembus Dibangun
-
DJKI Cermati 124 Situs Hasil Laporan Motion Picture Association
-
Open House Sekolah Rakyat Palembang: Gus Ipul Minta Penjangkauan Siswa Dilakukan Secara Jujur
-
Berat Badan 120 Kg dan Gejala Stroke, Razman Nasution Ditempatkan di Blok E Lapas Cipinang
-
Janji Prabowo Terbuka Terima Usulan: Jangankan Profesor, Dari Anak Desa Pun Saya Tindaklanjuti
-
183 Warga Pinggir Rel Senen Direlokasi, KAI Ratakan Puluhan Bangunan Liar
-
Ditanya Bro Ron Masih Kuat atau Tidak di Lampung, Jawaban Singkat Jokowi Bikin Heran
-
Prabowo Tambah Anggaran Riset Jadi Rp4 Triliun
-
Penampakan Bangunan Hancur di Bahrain dan Kuwait Usai Dihajar Rudal Iran