- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi Beijing bersama Presiden Donald Trump pada Mei 2026.
- Pemerintah China mengakali sanksi diplomatik dengan mengubah transliterasi nama Rubio menjadi Marco Lu dalam dokumen.
- Strategi ini memungkinkan China tetap menjaga martabat politiknya sambil memfasilitasi dialog tingkat tinggi dengan Amerika Serikat.
Suara.com - Fenomena unik, baru saja terjadi di Beijing ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, menginjakkan kaki di China, menemani sang presiden Donald Trump.
Kehadiran Rubio memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat global: bagaimana mungkin seorang pejabat tinggi yang sedang berada di bawah sanksi resmi pemerintah China, bisa diizinkan masuk ke wilayah mereka?
Jawabannya ternyata tidak ditemukan dalam pencabutan sanksi secara formal, melainkan melalui sebuah "trik" linguistik dan protokol diplomatik yang cerdik.
Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (15/5/2026), Beijing menggunakan celah dalam transliterasi nama untuk memuluskan kunjungan Rubio yang mendampingi Presiden Donald Trump dalam perjalanan dinas pertamanya ke China sejak menjabat kembali.
Permainan Kata: Dari 'Rubio' Menjadi 'Lu'
Pemerintah China tampaknya tidak ingin terlihat lemah dengan mencabut sanksi terhadap Rubio,.
Namun di lain sisi, mereka harus menghormati protokol kunjungan resmi pejabat tinggi Amerika Serikat.
Koresponden Al Jazeera, Alan Fisher, melaporkan langsung dari ibu kota China mengenai perubahan teknis pada dokumen resmi kenegaraan.
China melakukan penyesuaian pada cara penulisan nama sang Menteri Luar Negeri dalam karakter Mandarin.
Baca Juga: Klarifikasi Resmi Timnas Irak Terkait Isu Visa Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
“China melakukan itu dengan cara yang cerdik. Nama Rubio dieja berbeda dalam dokumen resmi untuk kunjungan ini,” ujar Fisher.
Secara teknis, pemerintah China mengubah karakter Mandarin yang digunakan untuk menerjemahkan suku kata pertama dari nama belakang Rubio.
Dengan mengubah transliterasi karakter menjadi Lu, sang menteri kini secara administratif tercatat sebagai "Marco Lu" dalam dokumen kunjungan tersebut.
Perubahan nama ini memungkinkan Beijing untuk menyambut Rubio dengan karpet merah, tanpa harus secara teknis melanggar aturan sanksi yang masih berlaku terhadap nama Marco Rubio.
Strategi ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama. Media resmi pemerintah China mulai mengubah ejaan nama Rubio sesaat sebelum ia resmi menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada Januari 2025.
Alasan Di Balik Sanksi Terhadap Marco Rubio
Berita Terkait
-
Klarifikasi Resmi Timnas Irak Terkait Isu Visa Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
-
Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita
-
Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026
-
Iran Blokir Kiriman Senjata AS di Selat Hormuz, Pendapatan Negara Diprediksi Meroket
-
Sebut AS Siap Akhiri Perang, Rusia Kasih Syarat: Pasukan Ukraina Angkat Kaki dari Donbas
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis