News / Metropolitan
Jum'at, 15 Mei 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi Child Grooming. (Pexels/Kampur Production)
Baca 10 detik
  • Kepala sekolah SMK di Pamulang diduga melakukan tindakan manipulasi psikologis atau child grooming terhadap siswinya sendiri.
  • Pihak yayasan sekolah resmi menonaktifkan oknum kepala sekolah tersebut guna melancarkan proses investigasi internal yang sedang berjalan.
  • Tim khusus dibentuk untuk mengungkap kebenaran dugaan eksploitasi emosional terhadap siswi yang memanfaatkan kerentanan psikologis korban.

Berdasarkan data dan kajian mengenai pola kekerasan seksual, child grooming umumnya muncul melalui strategi pelaku yang memosisikan diri sebagai teman dekat dan pendengar, memberikan hadiah serta validasi berlebihan, melakukan normalisasi seksual secara bertahap, meminta relasi dirahasiakan untuk mengisolasi anak dari lingkungan pendukung, memanipulasi rasa bersalah dan takut, hingga berujung pada ancaman dan pemerasan seksual agar korban terus menuruti kehendaknya.

Dalam konteks di SMK Pamulang, manipulasi emosional terhadap siswi yang merasa kehilangan figur ayah menjadi pintu masuk utama bagi pelaku.

Dengan memberikan validasi berlebihan dan memosisikan diri sebagai pendengar yang baik, pelaku perlahan-lahan mengaburkan batasan profesional antara guru dan murid.

Hal itu sering kali membuat korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam jeratan manipulasi hingga akhirnya terjadi eksploitasi yang lebih jauh.

Load More