Suara.com - Perkembangan energi terbarukan yang semakin pesat kerap memunculkan kekhawatiran terkait alih fungsi lahan pertanian maupun dampaknya terhadap kawasan bernilai ekologis.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Cornell University, The Nature Conservancy (TNC), U.S. Geological Survey (USGS), dan Central Michigan University mengembangkan model pemetaan untuk membantu menentukan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala utilitas secara lebih berkelanjutan.
Dikutip dari Phys.org, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geography and Sustainability itu dirancang untuk mengidentifikasi area potensial bagi pengembangan energi surya dengan tetap melindungi lahan pertanian produktif dan habitat keanekaragaman hayati yang sensitif.
Melalui model tersebut, para peneliti mengevaluasi geografi suatu wilayah berdasarkan tiga prioritas yang sering kali saling bersaing, yakni biaya pembangunan yang rendah, perlindungan sektor pertanian, dan konservasi lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan potensi konflik penggunaan lahan dipetakan sejak awal sebelum proyek energi surya dibangun.
"Terjadi konflik penggunaan lahan yang terkait dengan pengembangan energi surya karena ada berbagai pihak yang berkepentingan terhadap keanekaragaman hayati, pertanian, dan energi. Pada kenyataannya, ketiganya saling berinteraksi dalam satu sistem yang saling terhubung," kata penulis senior studi sekaligus Assistant Professor of Natural Resources and the Environment di Cornell University, Steve Grodsky.
Ada Konsekuensi di Setiap Pilihan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap prioritas membawa konsekuensi yang berbeda. Ketika perlindungan lahan pertanian menjadi fokus utama, sekitar 80 persen lokasi potensial di lahan pertanian utama dapat diselamatkan dari pembangunan panel surya. Namun, pilihan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan karena proyek dapat bergeser ke area lain yang tersedia.
Di sisi lain, menghindari kawasan ekologis sensitif hanya meningkatkan biaya tahunan sekitar 0,17 persen. Konsekuensinya, pembangunan panel surya lebih banyak diarahkan ke padang rumput, ladang jerami, dan lahan pertanian yang telah diolah.
New York dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki target transisi energi yang ambisius. Pada 2019, negara bagian tersebut mengesahkan undang-undang iklim yang menargetkan 70 persen pasokan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2030 dan mencapai 100 persen pada 2040.
Baca Juga: Gelombang Panas Picu Krisis Pangan, Dunia Mulai Cari Cara Bertahan
Dalam skenario pengembangan energi surya paling agresif yang digunakan peneliti, New York diperkirakan membutuhkan kapasitas tenaga surya sekitar 46.000 megawatt hingga 2050. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan lahan sekitar 107.700 hektare.
Meski demikian, angka itu hanya mencakup sebagian kecil dari total luas wilayah New York yang mencapai sekitar 30 juta hektare, termasuk 6,5 juta hektare lahan pertanian dan 4,5 juta hektare lahan lindung milik negara.
"Secara tradisional, penentuan lokasi pembangkit tenaga surya berfokus pada biaya terendah agar energi dapat dibangun dengan cepat dan efisien. Namun, banyak penolakan dari masyarakat yang ingin melindungi lahan pertanian utama dan khawatir terhadap penebangan hutan dalam skala besar," ujar penulis utama studi, Adam Gallaher.
Para peneliti menilai model pemetaan tersebut dapat diterapkan di berbagai wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa. Dalam pemetaan biaya terendah, tim mempertimbangkan faktor seperti jarak ke jalan dan jaringan transmisi listrik, jenis tanah, serta penggunaan lahan saat ini. Sementara itu, data pertanian dan lingkungan diperoleh dari sejumlah lembaga terkait di New York dan pemerintah federal Amerika Serikat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa percepatan transisi energi terbarukan tidak harus mengorbankan lahan pertanian maupun kawasan bernilai ekologis. Dengan perencanaan lokasi yang lebih matang, pembangunan energi surya dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab dengan tambahan biaya yang relatif kecil.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pemkot Depok Usul Lima Rute Baru Transjabodetabek
-
DPR MInta Usut Tuntas Dugaan Penyekapan Perempuan oleh Oknum Polisi di Jawa Tengah
-
Penyusunan Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal Jateng Perlu Dipercepat
-
Pengungsi WNA di Setiabudi, Pramono Anung Akan Tertibkan Fasilitas Publik yang Disalahgunakan
-
KPK Dalami Keterangan Bupati Kuansing soal Dugaan Amplop untuk Menhut Raja Juli
-
3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
-
KPK Sita Uang Rp1,22 Miliar Valas hingga 55 Kg Logam Diduga Platinum
-
Hadiri Pelantikan Srikandi Jaga Desa, Hashim Djojohadikusumo Tekankan Pentingnya Peran Perempuan
-
Kenakan Rompi Oranye KPK, Bupati Langkat Syah Afandin Bantah Sudah Tahu Ada OTT
-
KPK Ungkap Kronologi Penemuan Uang Rp100 Juta di Bawah Jok Mobil dalam OTT Bupati Langkat