Suara.com - Variabilitas iklim global disebut dapat memengaruhi risiko konflik bersenjata dengan cara yang lebih kompleks dan spesifik di tiap wilayah. Temuan ini terungkap dalam studi terbaru dari tim peneliti Rice University yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Penelitian yang dipimpin mahasiswa doktoral statistik Rice University, Tyler Bagwell, bersama ilmuwan iklim Sylvia Dee dan ahli statistik Frederi Viens itu meneliti lebih dari 500 peristiwa konflik bersenjata selama periode 1950–2023.
Dikutip dari Phys.org, studi ini menggunakan data resolusi tinggi yang memetakan konflik secara rinci berdasarkan lokasi geografis dan waktu kejadian. Pendekatan tersebut berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya memakai data agregat tingkat negara.
Tim peneliti menyusun data melalui analisis manual terhadap berbagai laporan primer guna memastikan ketepatan lokasi setiap konflik yang diteliti.
Penelitian ini berfokus pada pengaruh El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), dua pola iklim global yang dipicu anomali suhu laut di Samudra Pasifik tropis dan Samudra Hindia.
“Hal yang krusial bagi penelitian kami adalah fakta bahwa fase ekstrem ENSO dan IOD masing-masing dikaitkan dengan dampak iklim lokal yang berbeda, dan sering kali berlawanan,” kata Bagwell.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko konflik bersenjata global cenderung meningkat selama fase El Niño dibandingkan La Niña. Namun, peningkatan itu terutama ditemukan di wilayah yang mengalami kondisi lebih kering akibat pola iklim tersebut.
Sebaliknya, di wilayah yang justru mengalami peningkatan curah hujan saat El Niño, peneliti tidak menemukan hubungan statistik yang kuat dengan peningkatan konflik.
Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap ketersediaan air dan sektor pertanian akibat kekeringan menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap potensi konflik dibanding sekadar kenaikan suhu global.
Baca Juga: Di Tengah Krisis Ikim, Mahasiswa Engineering Didorong Hadirkan Solusi Lingkungan Berkelanjutan
Selain ENSO, penelitian juga menemukan pengaruh signifikan dari Indian Ocean Dipole (IOD). Baik fase positif maupun negatif IOD disebut dapat meningkatkan risiko konflik di wilayah yang terdampak langsung, seperti Tanduk Afrika dan sebagian Asia Tenggara.
Sylvia Dee menjelaskan bahwa pola IOD bekerja dalam skala waktu yang lebih pendek dan dapat berubah secara cepat, sehingga memicu tekanan iklim mendadak di wilayah rentan.
“Itu pola yang sangat berbeda. Dipole Samudra Hindia beroperasi dalam skala waktu yang lebih pendek dan dapat bergeser dengan cepat, menciptakan ‘hentakan’ iklim yang dapat mengganggu wilayah yang sudah rentan,” ujarnya.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa iklim bukan penyebab langsung konflik bersenjata. Faktor iklim lebih dipandang sebagai “pengganda ancaman” yang meningkatkan probabilitas kekerasan di wilayah dengan kerentanan sosial dan ekonomi.
Karena ENSO dan IOD dapat diprediksi secara musiman, tim peneliti menilai informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini bagi pemerintah maupun organisasi kemanusiaan untuk melakukan mitigasi di wilayah rawan.
“Hasil ini menyoroti hubungan penting antara iklim dan konflik,” kata Bagwell.
Ia menambahkan, prediksi kemunculan El Niño pada akhir tahun, termasuk potensi El Niño super menurut sejumlah lembaga meteorologi, membuat temuan tersebut menjadi semakin relevan untuk diantisipasi.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis
-
Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura
-
Rantai Hingga Alat Bor Jadi Bukti, Ini Sederet Alat Siksa Penyekapan di Percetakan Senen
-
Kasus Lagu 'Di Antara Kata' Memanas, Syahravi Balik Laporkan Fariz RM ke Polisi
-
Syahravi Bantah Langgar Hak Cipta Lagu Fariz RM, Tunjukkan Video Dipuji Sang Musisi