- Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menjalani rawat jalan setelah mengalami luka bakar akibat penyiraman air keras.
- Ahli medis menegaskan Andrie belum bisa mengikuti persidangan karena berisiko tinggi mengalami infeksi serta kegagalan cangkok kulit.
- Dokter di Pengadilan Militer Jakarta menyatakan Andrie harus tetap membatasi aktivitas fisik meski telah menjalani rawat jalan.
Suara.com - Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras oleh anggota BAIS TNI, ternyata telah menjalani rawat jalan.
Hal ini terungkap dalam di Pengadilan Militer II-08 Jakarta yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026), ketika Dokter Spesialis Bedah Plastik RSCM, Parintosa Atmodiwirjo, hadir sebagai ahli untuk memberikan keterangan soal kondisi medis Andrie.
Andrie mulanya dirawat di RSCM sejak 13 Maret 2026 akibat luka bakar serius yang ditimbulkan siraman air keras. Ia harus menjalani prosedur cangkok kulit hingga pengobatan mata selama masa perawatan.
Sampai pada 16 April 2026, Andrie mulai rawat jalan dan kembali melakukan kontrol ke poliklinik pada 18 April 2026.
Hal itu memancing penasihat hukum terdakwa mempertanyakan kondisi Andrie, dengan menekankan bahwa ia telah menjalani rawat jalan lebih dari sebulan.
Sementara Andrie hingga hari ini belum bisa dihadirkan ke persidangan dengan alasan kondisi medis yang belum memungkinkan.
"Tadi disampaikan oleh ahli bahwa terlalu riskan untuk yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Tapi dari rumah sakit dalam jangka waktu satu bulan, berapa kali rawat jalan. Tentunya kan risiko ini tinggi, sementara hadir di persidangan tidak bisa," kata salah satu dari mereka.
Namun keterangan Parintosa justru mematahkan simpulan yang hendak dibangun kubu terdakwa, dengan menegaskan bahwa status rawat jalan tidak berarti Andrie bebas beraktivitas.
"Izin dari kami, yang bersangkutan memang menjalani cangkok kulit dengan risiko ada infeksi dan kegagalan cangkok kulit. Jadi yang kami sarankan adalah yang bersangkutan tetap dalam kondisi mirip seperti dirawat. Jadi kalau di rumah pun, aktivitas seperti ketika dirawat," jawab sang dokter.
Baca Juga: Sidang Tuntutan Air Keras Andrie Yunus Ditunda, Dokter RSCM Dihadirkan sebagai Saksi
Parintosa bahkan secara tegas menyebut risiko serius yang akan ditanggung Andrie apabila anjuran medis itu diabaikan.
"Ya kalau memang itu dilanggar, maka ada risikonya, seperti terjadi kegagalan dalam cangkok kulit dan sebagainya," ucapnya.
Keterangan serupa disampaikan Dokter Faraby Martha yang menangani mata Andrie. Sang aktivis hingga hari ini masih memakai obat tetes dan antibiotik untuk mencegah infeksi.
"Yang paling kami takutkan adalah risiko infeksi apabila pasien ini menjalani suatu aktivitas. Terutama aktivitas di wilayah hukum yang banyak orang hadir," papar Faraby.
Namun di sisi lain, Parintosa tetap membuka kemungkinan untuk Andrie bisa dihadirkan ke persidangan dengan kondisi tertentu.
"Ada kemungkinan, bisa, tapi dengan catatan dari direktur kami," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Sidang Tuntutan Air Keras Andrie Yunus Ditunda, Dokter RSCM Dihadirkan sebagai Saksi
-
Kerusakan Mata Andrie Yunus Bersifat Permanen, Dokter RSCM Sebut Keparahannya Capai Grade 3
-
Kasus Air Keras Andrie Yunus: 4 Anggota BAIS TNI Jalani Sidang Tuntutan Hari Ini
-
Menhan Sjafrie: Peradilan Militer Bisa Hukum Lebih Berat Pelaku Penyiraman Air Keras
-
Menhan Soal Kasus Andrie Yunus di Peradilan Militer: Bisa Lebih Berat Hukumannya
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan