- Dosen Fisipol UGM, Gilang Desti Parahita, menilai komunikasi publik pemerintahan Presiden Prabowo menciptakan jarak dengan realitas masyarakat.
- Pemerintah dikritik karena mengabaikan empati serta gagal mengakui kesulitan ekonomi nyata yang dihadapi warga saat ini.
- Narasi optimisme pemerintah dianggap tidak relevan bagi masyarakat marginal yang tertekan kenaikan harga dan penurunan daya beli.
Suara.com - Dosen Komunikasi Pemerintahan dan Politik Fisipol UGM, Gilang Desti Parahita, menyoroti komunikasi publik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin menciptakan jarak dengan masyarakat. Menurutnya, narasi optimisme yang terus digaungkan pemerintah tidak sejalan dengan realitas ekonomi dan sosial yang dirasakan warga di lapangan.
Gilang menilai persoalan utama bukan sekadar pada isi pesan pemerintah, melainkan absennya empati dalam komunikasi publik yang disampaikan presiden.
"Yang tidak ada dalam banyak pidato Bapak Presiden yang terhormat ini adalah penyebutan-penyebutan apa pun, pengalaman apa yang dirasakan oleh rakyat," kata Gilang, dikutip Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, dalam teori komunikasi publik setidaknya terdapat dua pendekatan yang biasa digunakan pemerintah saat menghadapi krisis atau persoalan besar.
Pertama adalah pendekatan epideitik yang menekankan penguatan identitas bersama sebagai bangsa. Kedua adalah pendekatan deliberatif yang menonjolkan langkah konkret pemerintah dalam menyelesaikan masalah.
Namun, menurut Gilang, dua pendekatan itu menjadi tidak efektif ketika tidak dibarengi pengakuan terhadap keresahan publik. Ia menilai pidato yang hanya menonjolkan optimisme atau instruksi pemerintah justru terasa jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Persoalannya adalah ketika dua pendekatan ini ya, yang epideitik maupun yang deliberatif ini tidak juga menyertakan empati kepada publik," ujarnya.
Gilang menyebut pemerintah semestinya terlebih dahulu mengakui kondisi sulit yang tengah dialami masyarakat, mulai dari rupiah melemah yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok hingga menurunnya daya beli. Pengakuan eksplisit itu dinilai penting agar publik merasa didengar.
Ia mengaku menemukan langsung keresahan tersebut saat melakukan riset di Lombok Timur terhadap kelompok masyarakat marginal, seperti perempuan, warga miskin, dan penyandang disabilitas.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Pernah Dibantu Megawati saat Masih 'Luntang-Lantung'
Dalam riset itu, warga mengeluhkan harga hasil ternak yang turun drastis karena daya beli masyarakat melemah, sementara harga kebutuhan pokok justru meningkat.
Itu sebabnya narasi pemerintah yang menyebut kondisi ekonomi "baik-baik saja" dianggap sulit diterima sebagian warga.
"Terjadi jarak yang terlalu jauh antara narasi tunggal pemerintah tentang optimisme dengan realitas yang dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.
Persepsi publik, kata Gilang, sering kali berbeda dengan data makroekonomi yang dipaparkan pemerintah.
Menurutnya, keresahan publik saat ini dapat terlihat dari percakapan yang berkembang di media sosial maupun pengalaman sehari-hari masyarakat, mulai dari sulitnya mencari pekerjaan hingga persoalan akses bantuan sosial yang dinilai makin rumit akibat proses digitalisasi dan verifikasi data.
"Nah, ini enggak bisa kita menyebut sesederhana ekonomi sedang baik-baik saja," tegasnya.
Narasi optimisme ekonomi yang digembar-gemborkan mungkin terasa relevan hanya bagi kelompok elite yang memiliki akses sumber daya besar. Namun berbeda bagi warga biasa yang menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Berita Terkait
-
Prabowo Ungkap Pernah Dibantu Megawati saat Masih 'Luntang-Lantung'
-
Prabowo ke PDIP: Alangkah Manisnya Kalau Semua Partai di Pemerintah
-
Yakin Rupiah Menguat Usai Pidato Prabowo, Surya Paloh: Selain Optimisme Apalagi yang Kita Punya?
-
Apa Itu Danantara Sumber Daya Indonesia? 'Senjata' Baru Prabowo Sikat Mafia
-
BI Mulai Kehabisan Cadev? Prabowo Wajibkan Eksportir Parkir Dolar di RI Mulai 1 Juni 2026
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Penuhi Titah Prabowo, Pramono Siapkan Lahan 8 Hektare Bangun Sekolah Rakyat Permanen di Jakarta
-
Fakta-fakta Kebakaran TPA Jatiwaringin, Ratusan Orang Mengungsi
-
Korban Ketiga Operasi Narkoba Katingan: Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal
-
Pelayat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Ingin Donald Trump Meninggal Dunia
-
Ada Tamu Negara! Simak Rute Penutupan Jalan di Jakarta Selama Kunjungan PM Singapura
-
Khofifah Lepas 4.015 Pelari MANTRA116 2026, Perkuat Posisi Jatim sebagai Destinasi Sport Tourism
-
Jurus Baru Roy Suryo: Ajukan Praperadilan Jilid 2 Demi Runtuhkan Dasar Tersangka UU ITE
-
Rugikan Nasabah Rp90 M, Kasus Akses Ilegal Mirae Asset Naik Penyidikan!
-
Melejit 300 Persen! Penumpang Stasiun JIS Membeludak di Akhir Pekan, Tiket Rp1 Jadi Magnet
-
Teror Bom Molotov! Rumah Advokat di Ciracas Diserang Dua Pria Misterius