-
Penahanan aktivis kemanusiaan Gaza memicu kecaman global setelah video perlakuan tidak manusiawi beredar.
-
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menlu Gideon Saar mengecam tindakan arogan Menteri Ben Gvir.
-
Sebanyak 430 relawan internasional ditahan paksa dan dipindahkan ke penjara isolasi Ketziot.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu minta semua aktivis Global Sumud Flotilla - termasuk 9 WNI - dilepaskan dengan cara dideportasi. Hal itu dilakukan setelah kebijakan penahanan aktivis kemanusiaan Gaza oleh otoritas Israel memicu gelombang kecaman internasional yang meluas.
Penolakan global ini memuncak setelah beredarnya video perlakuan tidak manusiawi terhadap para relawan tersebut di media sosial.
Aksi arogan ini tidak hanya memantik kemarahan dunia, tetapi juga memperlebar keretakan politik di dalam internal pemerintahan Israel sendiri. Sejumlah menteri senior kini saling serang secara terbuka akibat penyebaran dokumentasi penangkapan tersebut.
Krisis diplomatik baru ini memperlihatkan rapuhnya konsensus moral di lingkaran elite kekuasaan Tel Aviv. Di tengah tekanan luar negeri, ego politik sektoral justru mengorbankan reputasi internasional negara.
Dikutip dari DW Jerman, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, memicu kontroversi dengan mengunggah video para aktivis yang tertangkap. Dalam video tersebut, para relawan dipaksa berlutut dengan tangan terikat di punggung dan dahi menempel ke lantai.
Melalui akun X pribadinya, Ben Gvir menuliskan narasi provokatif yang menyudutkan para relawan kemanusiaan. Ia menegaskan, "Begitulah cara kami menyambut para pendukung terorisme. Selamat datang di Israel," sembari memamerkan bendera Israel di atas kapal militer.
Tindakan sepihak Ben Gvir langsung mendapat respons negatif dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Netanyahu menilai publikasi tersebut sangat merugikan posisi diplomasi pertahanan Israel di mata publik global.
Meskipun Netanyahu menyatakan Israel berhak menghentikan "armada provokatif dari para pendukung teroris Hamas," ia mengkritik keras cara Ben Gvir. Menurutnya, perlakuan yang dipertontonkan sang menteri "tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel."
Guna meredam gejolak yang semakin membesar, Netanyahu langsung mengambil langkah tegas. "Saya telah menginstruksikan otoritas terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin," ujar Netanyahu dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Menlu Sugiono Pastikan Pemerintah Terus Upayakan Pemulangan 9 WNI dari Israel
Langkah menjaga jarak juga diambil oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, yang mengecam Ben Gvir secara terbuka. Saar menilai tindakan tersebut murni demi kepentingan politik pencitraan personal yang merusak tatanan negara.
Melalui media sosial, Saar menyerang Ben Gvir dengan kalimat yang sangat menohok. "Anda dengan sengaja menyebabkan kerugian bagi negara kita dengan tampilan yang memalukan ini — dan ini bukan yang pertama kalinya," tulis Saar seraya menegaskan bahwa Ben Gvir "bukanlah wajah Israel."
Di sisi lain, lembaga hukum Adalah mengonfirmasi bahwa 430 aktivis dari kapal bantuan yang dicegat telah dipindahkan ke kapal Israel. Organisasi hak asasi manusia ini terus berupaya memberikan pendampingan hukum darurat bagi para tahanan.
Pihak Adalah menyatakan para relawan telah ditahan di pelabuhan Ashdod dan dibawa ke Israel secara paksa. Kuasa hukum dari lembaga tersebut saat ini tengah berusaha keras masuk untuk melakukan konsultasi hukum.
Panitia penyelenggara armada bantuan menyatakan para aktivis rencananya akan dipindahkan ke penjara Ketziot di Gurun Negev. Lokasi penahanan yang terisolasi ini dinilai mempersulit akses komunikasi dengan dunia luar.
Kondisi ini membuat pengacara dari Adalah tidak bisa menemui para aktivis dalam waktu dekat. Pertemuan hukum baru bisa dilakukan setelah para relawan tersebut tiba di fasilitas penjara Ketziot.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Klaim! KPK Punya Bukti Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Tak Hanya Muara Enim! KPK Temukan Pola Lobi BPK Demi WTP di PALI dan Empat Lawang
-
Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?
-
Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo
-
Pelabuhan Diminta Seaman Bandara, DPR Dorong Pemisahan Kapal Barang dan Penumpang
-
BRI Sediakan Fasilitas Cicilan 0 Persen Hingga 12 Bulan di AZKO
-
HUT RI ke-81, Mitra Grab Palembang Rayakan Semangat Gotong Royong Bersama 810 Mitra
-
Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD
-
Diskon Belanja Hingga 50 Persen di AZKO dari BRI, Cek Syaratnya
-
Mirip 98 Persen! Meterai Palsu Banjiri Marketplace, Cara Mudah Bedakannya Pakai Air Liur