- Presiden China Xi Jinping menjamu Vladimir Putin di Beijing pada 20 Mei 2026 untuk memperkuat kerja sama bilateral.
- China mengembangkan Jalur Sutra Kutub untuk mempercepat logistik ke Eropa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Selat Malaka.
- Xi Jinping berencana mengunjungi Korea Utara pekan depan sebagai upaya diplomasi demi menjaga stabilitas keamanan kawasan regional.
Suara.com - Beijing benar-benar menjadi pusat perhatian dunia pekan ini. Setelah menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan yang sangat strategis pada Rabu, 20 Mei 2026, Presiden China Xi Jinping dikabarkan tidak akan beristirahat lama.
Informasi terbaru dari kantor berita Yonhap menyebutkan bahwa Xi tengah bersiap untuk melakukan kunjungan penting ke Korea Utara paling cepat pada pekan depan menurut catatan Sputnik Globe, (21/5/2026).
Kabar rencana lawatan ke Pyongyang ini muncul tepat setelah Putin dan Xi mempererat ikatan yang mereka sebut sebagai hubungan "tidak terjoyahkan" di Great Hall of the People.
Manuver Rusia-China
Dalam pertemuan tersebut, Rusia dan China memamerkan kekuatan ekonomi mereka dengan nilai perdagangan bilateral tahun 2025 yang menembus angka Rp4.224 triliun.
Menariknya, transaksi raksasa ini hampir 100 persen sudah meninggalkan Dolar AS dan beralih menggunakan mata uang lokal, yaitu Rubel dan Yuan, demi memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara dari tekanan eksternal.
Namun, agenda Xi Jinping bukan sekadar soal angka perdagangan. Di balik kemesraan Beijing dan Moskow, terdapat ambisi besar untuk menggarap Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub melalui Jalur Laut Utara (NSR).
Rute ini sangat menggiurkan karena mampu memangkas waktu tempuh pengiriman barang dari China ke Eropa menjadi hanya sekitar 20 hari saja.
Durasi ini hampir dua kali lebih cepat dibandingkan jalur tradisional melewati Terusan Suez yang biasanya memakan waktu 35 hingga 45 hari.
Baca Juga: China dan Rusia Buka Rute Dagang Baru Lewat Kutub Utara, Apa Efeknya di Selat Malaka dan Indonesia?
Langkah China mencari rute alternatif ini bukan tanpa alasan. Beijing sedang berupaya keras mengatasi Dilema Malaka, di mana sekitar 80 persen impor minyak mereka harus melewati Selat Malaka yang sempit dan rawan blokade.
Apalagi, situasi keamanan maritim global sedang dihantui krisis besar sejak penutupan total Selat Hormuz pada Maret 2026 yang sempat memangkas pasokan minyak dunia hingga 10,1 juta barel per hari.
Selat Malaka rentan kehilangan "nasabah"
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Pada April 2026, pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan sempat melempar gagasan revolusioner untuk mengenakan tarif tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka.
Namun, dengan adanya alternatif Jalur Sutra Kutub yang lebih efisien bagi China dan Rusia, posisi strategis Selat Malaka kini menghadapi tantangan persaingan rute logistik global.
Di tengah pergeseran arus dagang dan energi ini, kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara pekan depan dipandang sebagai langkah diplomasi untuk menjaga stabilitas kawasan.
Xi dikabarkan akan mencoba mengambil peran sebagai mediator dalam hubungan antara Korea Utara dengan Amerika Serikat, sekaligus membantu meredakan ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Dengan mengamankan stabilitas di Korea Utara, China berupaya memastikan bahwa fokus pembangunan ekonomi dan jalur logistik baru mereka di utara tidak terganggu oleh konflik regional di halaman rumahnya sendiri.
Berita Terkait
-
China dan Rusia Buka Rute Dagang Baru Lewat Kutub Utara, Apa Efeknya di Selat Malaka dan Indonesia?
-
Vladimir Putin Sebut Hubungan Rusia-China Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah
-
AS Keluar, Rusia Masuk: Intip Pertemuan Xi Jinping dan Putin di Beijing, Terusan Suez Bisa Tak Laku
-
Usai Bertemu Trump, Xi Jinping Langsung Gelar Pertemuan Strategis dengan Putin
-
Pesan di Balik Kemesraan Baru Moskow-Beijing yang Diklaim 'Tak Cari Musuh'
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif