News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:29 WIB
Ratusan anak muda berkumpul di kompleks Serangan Umum 1 Maret Titik Nol Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). (Suara.com/Hiskia)
Baca 10 detik
  • Ratusan anak muda berkumpul di Titik Nol Yogyakarta pada 21 Mei 2026 untuk memperingati Reformasi dan Hari Kebangkitan Nasional.
  • Kegiatan yang diisi orasi dan konser musik ini bertujuan membangkitkan keberanian serta merajut solidaritas anak muda pasca penangkapan aktivis.
  • Aktivis menuntut pemerintah mengusut dugaan teror terhadap Andrie Yunus melalui jalur peradilan umum guna menegakkan hak asasi manusia.

Suara.com - Ratusan anak muda berkumpul dalam agenda peringatan Reformasi dan Hari Kebangkitan Nasional di kompleks Serangan Umum 1 Maret Titik Nol Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). 

Tak hanya berorasi tapi ada konser musik yang digunakan untuk menjadi ruang untuk membangkitkan kembali keberanian anak muda setelah berbagai peristiwa penangkapan aktivis sejak Agustus lalu.

Aktivis Social Movement Institute (SMI), Muhammad Fakhrurrozi atau Paul, mengatakan agenda ini bukan sekadar seremoni memperingati Reformasi 1998. Menurut dia, acara ini menjadi ajakan agar anak muda kembali aktif menyuarakan kritik di ruang publik.

"Ini untuk mengumpulkan kembali semangat anak-anak muda yang kurang lebih sejak bulan Agustus ditangkap, ada trauma, ada ketakutan. Sehingga acara ini punya pesan kepada seluruh teman-teman muda yang ada di Indonesia untuk kembali bersuara," kata Paul ditemui di lokasi.

Di sisi lain, Paul membantah anggapan bahwa antusiasme gerakan mahasiswa dan anak muda khususnya di Yogyakarta mulai menurun dibanding era aksi Gejayan Memanggil beberapa tahun lalu. 

Menurutnya, semangat kritik masih ada hanya kini tersebar di berbagai komunitas dan forum.

"Jadi memang antusiasnya tetap ada tapi tidak terkonsentrasi seperti sebelumnya," ucapnya.

Sementara itu, Aktivis Lokataru Foundation Delpedro Marhaen menegaskan kegiatan ini menjadi bentuk perlawanan terhadap rasa takut yang muncul setelah adanya penangkapan aktivis dan dugaan teror terhadap Andrie Yunus. 

Ia menyebut acara itu sengaja dikemas dengan konser musik bertema kritik sosial agar menjadi ruang ekspresi yang lebih dekat dengan anak muda.

Baca Juga: Teriak 'Viva Palestine', Harry Styles Respons Fan Saat Konser di Belanda

"Yang pertama adalah untuk menghilangkan rasa takut setelah terjadinya penangkapan Agustus dan juga adanya teror terhadap Andrie Yunus," ujar Delpedro.

Disampaikan Delpedro, acara ini sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap praktik militerisme dan upaya menjaga solidaritas antar anak muda. 

"Sehingga hari ini mungkin lebih dari 500 orang mungkin ya ada anak muda yang berkumpul, menyampaikan pendapatnya, orasinya, dan juga dibarengi dengan konser," ujarnya.

Delpedro mengakui kriminalisasi dan penangkapan terhadap aktivis membuat sebagian anak muda khawatir untuk turun menyampaikan pendapat di muka umum.

"Makanya kita buat konser ini salah satunya adalah untuk menumbuhkan keberanian lagi di antara anak muda, merajut jejaring solidaritas, sekaligus juga menjadi ruang pertemuan kembali," tegasnya.

Terakhir dalam refleksi 28 tahun Reformasi, Delpedro menyinggung pentingnya penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ia meminta pemerintah mengusut kasus Andrie Yunus melalui peradilan umum, bukan peradilan militer.

"Jadi berharap bahwa Pak Presiden, Pak Prabowo dengan juga jajaran kementerian dan juga dari pihak kepolisian maupun kejaksaan mampu mengusut atau mengadili peristiwa ini di pengadilan umum," tandasnya.

Adapun beberapa seniman yang turut hadir mulai dari Majelis Lidah Berduri, Efek Rumah Kaca, Usman and the Black Stone, hingga Butet Kartaredjasa.

Load More