- PN Jakarta Selatan menggelar sidang praperadilan aktivis Andrie Yunus melawan Polda Metro Jaya pada Jumat, 22 Mei 2026.
- Pemohon menghadirkan saksi ahli untuk memaparkan hasil analisis rekaman CCTV terkait keterlibatan 16 orang dalam peristiwa tersebut.
- Hakim memerintahkan kedua pihak fokus pada prosedur hukum praperadilan setelah termohon keberatan terhadap materi kesaksian yang disampaikan saksi.
Suara.com - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan kembali menggelar sidang lanjutan praperadilan yang diajukan oleh pihak pemohon aktivis KontraS, Andrie Yunus, pada Jumat (22/5/2026). Sidang kali ini beragendakan pembuktian surat dan pemeriksaan saksi dari pihak pemohon maupun termohon.
Pantauan di Ruang Oemar Seno Adji, tim kuasa hukum Andrie Yunus selaku pemohon dan Tim Polda Metro Jaya selaku termohon menyerahkan sejumlah dokumen bukti kepada hakim tunggal, Suparna.
Selain bukti surat, pemohon menghadirkan tiga orang saksi yang berasal dari unsur peneliti, KontraS, dan Amnesty International.
Pemeriksaan saksi diawali oleh Ravio Patra, seorang peneliti yang ditugaskan oleh koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari KontraS, YLBHI, dan LBH Jakarta.
Dalam persidangan, Ravio menjelaskan kapasitasnya sebagai peneliti yang kerap melakukan analisis dan tinjauan terhadap berbagai perkara hukum.
"Saat ini pekerjaan saya adalah sebagai seorang peneliti, utamanya di bidang hak asasi manusia," ujar Ravio di hadapan hakim di PN Jaksel, Jumat (22/5/2026).
Dalam kesaksiannya, Ravio mengungkapkan hasil penelitiannya yang berbasis pada rekaman kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian. Ia menyebut telah menyisir banyak titik untuk membedah konstruksi peristiwa tersebut.
"Selama proses penelitian ini, saya menerima dari tiga lembaga yang menugaskan, total 34 CCTV dari berbagai titik berbeda," ungkapnya.
Berdasarkan analisis rekaman tersebut, Ravio memaparkan temuan mengenai jumlah orang yang diduga terlibat dalam peristiwa yang menimpa Andrie Yunus.
Baca Juga: Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan
"Jadi kami menyebut ini atau kemudian menyimpulkan bahwa sejauh ini setidaknya dari yang kasat mata terlihat di CCTV itu setidaknya pelaku berjumlah 16 orang dengan peran yang berbeda-beda," tambahnya.
Di tengah penyampaian keterangan saksi, pihak Polda Metro Jaya selaku termohon mengajukan keberatan. Tim hukum kepolisian menilai kesaksian Ravio telah melenceng dari koridor persidangan praperadilan dan mulai memasuki ranah pembuktian perkara utama.
"Ini menurut kami sudah masuk ke substansi, sudah masuk ke materi pokok perkara. Sedangkan kalau kita merujuk kepada objek yang mereka ajukan serta petitum yang mereka ajukan adalah terkait adanya ataupun dugaan penundaan perkara tanpa alasan yang sah," tegas salah satu anggota tim hukum Polda Metro Jaya.
Merespons keberatan tersebut, hakim tunggal Suparna meminta kedua belah pihak untuk tetap fokus pada objek gugatan praperadilan, yakni mengenai prosedur hukum dan alasan penundaan perkara, bukan pada pembuktian bersalah atau tidaknya seseorang.
"Tadi sudah saya sampaikan bahwa to the point berkaitan dengan masalah permohonan saudara dan jawaban dari Termohon," ujar Suparna.
Sidang sempat diskors untuk memberikan kesempatan bagi para pihak menunaikan ibadah sholat Jumat. Persidangan dijadwalkan berlanjut pada siang ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dan ahli lainnya yang telah disiapkan.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung