News / Internasional
Jum'at, 29 Mei 2026 | 16:20 WIB
ilustrasi Selat Hormuz (Google Gemini)
Baca 10 detik
  • Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan 20 persen minyak dan LNG dunia yang menghubungkan Teluk Persia dan Oman.
  • Iran memanfaatkan posisi geografis dan militer asimetrisnya untuk mengendalikan jalur tersebut sebagai alat tawar terhadap sanksi internasional.
  • Gangguan di selat ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global serta merugikan stabilitas ekonomi negara-negara importir secara signifikan.

Suara.com - Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling strategis di dunia saat ini. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab ini menjadi jalur vital bagi perdagangan energi global.

Iran, yang menguasai sisi utara selat tersebut, sering disebut memiliki kendali signifikan atas lalu lintas maritim di kawasan itu. Pertanyaan “mengapa Iran mengendalikan Selat Hormuz” bukan hanya soal geografi, melainkan kombinasi antara posisi alamiah, kekuatan militer, dan kepentingan geopolitik yang mendalam.

Letak Geografis dan Signifikansi Ekonomi

Secara geografis, Selat Hormuz memiliki lebar hanya sekitar 33-95 kilometer di titik terlebarnya, dengan jalur pelayaran yang bahkan lebih sempit, hanya beberapa kilometer.

Iran menguasai pantai utara dan beberapa pulau penting seperti Pulau Tunb Besar, Tunb Kecil, dan Abu Musa. Sementara Oman mengendalikan sisi selatan, membuat posisi Iran memberikan keuntungan taktis yang luar biasa.

Menurut data Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, setiap harinya rata-rata 20-21 juta barel minyak mentah dan produk petroleum melintas melalui Selat Hormuz. Angka ini setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak global dan lebih dari seperempat perdagangan minyak laut dunia.

Selain minyak, sekitar 20 persen liquefied natural gas (LNG) dunia juga melewati selat ini, terutama dari Qatar. Gangguan sekecil apa pun di selat ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi dunia.

Bagi Iran sendiri, selat ini adalah arteri kehidupan ekonomi. Sebagian besar ekspor minyak Iran bergantung pada jalur ini. Di tengah sanksi internasional yang panjang, kendali atas Hormuz menjadi alat bargaining yang ampuh.

Dimensi Militer dan Strategi Pertahanan

Iran mengendalikan Selat Hormuz karena memiliki kemampuan militer yang disesuaikan dengan medan sempit tersebut.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) memiliki pasukan laut khusus yang terlatih untuk peperangan asimetris: speedboat cepat, ranjau laut, rudal anti-kapal, dan drone.

Baca Juga: Mengapa Arab Saudi Tidak Mendukung Iran?

Iran juga menguasai pulau-pulau yang berfungsi sebagai basis militer maju.

Dalam berbagai konflik, Iran berulang kali mengancam akan menutup selat ini jika wilayahnya diserang. Ancaman tersebut bukan sekadar gertakan.

Menenggelamkan satu atau dua kapal tanker besar saja sudah cukup untuk menyumbat jalur sempit ini selama berhari-hari, menyebabkan kerugian ekonomi global miliaran dolar per hari.

Kepentingan Geopolitik

Ada beberapa alasan fundamental mengapa Iran begitu kuat mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz:

1. Alat Perlawanan terhadap Sanksi: Ketika menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel, Iran menggunakan ancaman penutupan selat sebagai deterrent. Ini memaksa negara-negara importir minyak (terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan) mempertimbangkan posisi mereka.

2. Keseimbangan Kekuatan Regional: Iran melihat kehadiran militer AS di Teluk Persia sebagai ancaman eksistensial. Mengendalikan Hormuz adalah cara untuk menyeimbangkan kekuatan tersebut.

Load More