- Keluarga balita melaporkan RSUD Prambanan ke Polda DIY atas dugaan kelalaian medis yang menyebabkan kematian pasien usai sedasi.
- Pasien meninggal di ICU pada 28 April 2026 setelah menjalani prosedur CT scan dengan pemberian sedasi tiga kali.
- Ditreskrimsus Polda DIY sedang menyelidiki laporan tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi terkait prosedur medis di RSUD Prambanan.
Suara.com - Keluarga balita bernama Naura Dwi Meydita Putri melaporkan dugaan kelalaian medis dalam penanganan di RSUD Prambanan, Sleman ke Polda DIY. Laporan tersebut kini tengah dalam proses penyelidikan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIY.
Kuasa hukum keluarga korban, Purnomo Susanto, mengatakan tim hukum kembali mendampingi ibu korban, Anastacia Niken Purwandari, untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di Polda DIY pada Selasa (2/6/2026) hari ini.
Pemeriksaan itu merupakan tindak lanjut atas laporan polisi LP/B/319/N/2026/SPKT/POLDA yang diajukan ibu korban pada 17 Mei 2026 kemarin.
"Ini melanjutkan dari pemeriksaan awal terkait dengan laporan polisi tersebut terkait dengan dugaan kelalaian medis sesuai diatur dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen," kata Purnomo kepada awak media di Mapolda DIY, Selasa (2/6/2026).
Balita Meninggal Usai Sedasi
Diceritakan Purnomo, kasus bermula saat Naura menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUD Prambanan pada 27 April 2026 lalu. Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah balita berusia 3 tahun 11 bulan 16 hari itu mendapat rujukan berjenjang dari Posyandu dan Klinik karena ukuran lingkar kepalanya dinilai perlu mendapat perhatian medis.
Dalam pemeriksaan tersebut, dokter menyarankan CT scan setelah ukuran lingkar kepala Naura masih tercatat 46 sentimeter. Sebelum tindakan CT scan dilakukan, Naura mendapatkan sedasi di ruang radiologi.
"Namun setelah diberikan tindakan sedasi sampai proses CT scan itu anak ini tidak tersadarkan diri hingga dibawa ke ruang ICU dan kemudian pada tanggal 28 April 2026 pukul 02.20 WIB, anak ini meninggal dunia," ujarnya.
Purnomo menyebut pihak keluarga mempertanyakan rangkaian tindakan medis yang dilakukan sebelum kondisi korban memburuk. Berdasarkan keterangan yang disampaikan keluarga kepada penyelidik, sedasi diberikan melalui tiga kali penyuntikan dengan jeda tertentu.
Baca Juga: Motif Ekonomi di Balik Kekerasan Daycare Little Aresha, Satu Pengasuh Tangani Delapan Anak
"Tindakan sedasi itu berupa penyuntikan tiga kali. Penyuntikan tiga kali. Tiga kali jeda waktunya pertama kedua itu 30 menit, kira-kira sekitar 30 menit, jeda waktu dari dua ketiga itu enggak ada dua menit," ungkapnya.
Keluarga Sebut Korban Datang dalam Kondisi Sehat
Ibu korban, Anastacia Niken Purwandari, menegaskan anaknya datang ke rumah sakit dalam kondisi sehat dan aktif. Menurut dia, tidak ada keluhan kesehatan yang dialami Naura sebelum menjalani pemeriksaan CT scan.
"Dia itu sehat, dia enggak sakit. Dia itu enggak sakit, dia itu sehat. Cuma dia masih bermain di situ, masih makan. Waktu sebelum tindakan itu dia sehat, tapi setelah tindakan itu sampai dia enggak sadar," ujar Niken.
Keluarga menyampaikan sejumlah kondisi yang muncul setelah tindakan sedasi sebelum akhirnya dibawa ke ICU.
"Muntah darah, henti napas. Iya, sampai di ICU itu dia sampai ada lebam di bawah mata sama sempat kejang juga dia beberapa kali gitu," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Megawati Apresiasi Panen Jagung GNTI, Produktivitas Disebut Lampaui Metode Konvensional
-
Bobby Nasution Ajak Kolaborasi Total Berantas Narkoba, Siap Dukung Anggaran BNNP
-
Ribuan Ikan Mati Mengambang di Karawang, Warga Diminta Jangan Konsumsi
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
Imigrasi Siapkan Corridor Gate, Jemaah Haji Jakarta dan Surabaya Tidak Perlu Antre Imigrasi
-
Toko Disegel dan Bawang Busuk, Pengusaha UMKM Bali Minta Perlindungan DPR Lawan Oknum Polisi
-
Cegah Konflik, Bantuan Sandang Korban Kebakaran Kemayoran Belum Dibagikan
-
Percakapan Lengkap Donald Trump saat Marahi Netanyahu: Apa yang Kau Lakukan, Bodoh!
-
Dana Umrah Hanania Group Diduga Buat Bayar Influencer, Polisi akan Periksa Keanu hingga Awkarin
-
Modus Beli Nasi Padang, Komplotan Maling Gondol Motor Pegawai Warung di Cilincing