News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 16:32 WIB
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Politikus Guntur Romli mengkritik Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya karena dianggap memutarbalikkan fakta terkait klaim keberhasilan diplomasi investasi Presiden Prabowo.
  • Guntur menyatakan mayoritas investasi sebesar Rp2.430 triliun berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri, bukan hasil diplomasi luar negeri Presiden Prabowo.
  • Guntur menilai klaim investasi Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan merupakan penyesatan publik karena baru sebatas komitmen tertulis.

Suara.com - Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli menilai Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya memutarbalikan fakta, dalam penjelasannya mengenai total investasi berkat buah diplomasi Presiden Prabowo Subianto di luar negeri.

Sorotan terhadap pernyataan Teddy disampaikan Guntur Romli melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadi, @gunromli. Suara.com telah mengonfirmasi untuk mengutip pernyataan Guntur.

"Lagi rame video Pak Seskab Teddy menjawab video Pak Dino Patti Djalal. Tapi ada poin dalam video Seskab Teddy yang dengan jelas memutarbalikkan fakta," ujar Guntur, Selasa (2/6/2026).

Guntur tidak mempersoalkan besaran nilai investasi yang disebut Teddy. Yang menjadi persoalan kemudian adalah Teddy menyebut total investasi tersebut hasil dari diplomasi luar negeri Prabowo.

"Dia menyebut total investasi selama 1,5 tahun pemerintahan Prabowo sebesar 2.430 triliun. Sampai di sini Teddy benar. Tapi kemudian Teddy membanggakan investasi itu sebagai buah diplomasi luar negeri Presiden Prabowo. Nah, ini yang menyesatkan," kata Guntur.

Guntur menjelaskan mayoritas dari total investasi yang disebutkan Teddy justru berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 52,6% atau 1.279,1 triliun. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya 1.150,9 triliun atau 47,4% persen.

"Bahkan sepanjang 2025, PMA hampir stagnan. Artinya, mayoritas uang yang benar-benar masuk adalah investor dalam negeri, bukan hasil kunjungan luar negeri Presiden Prabowo," kata Guntur.

Mengenai investasi, Guntur mengatakan sebelumnya ia pernah membuat video perihal "Presiden Prabowo Gagal Menarik Investasi Asing dibanding dengan Masifnya Perjalanan ke Luar Negeri".

"Bila dilihat dari hasil investasi asing yang masuk, judulnya 'Presiden Prabowo Gagal Membawa Masuk Investasi Asing Meski Sering ke Luar Negeri' tanggal 9 April," kata Guntur.

Baca Juga: Analis: Presiden Prabowo Kini Terhimpit di Antara PDIP dan Jokowi

Guntur mengatakan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mengakui realisasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang 2025 hanya tumbuh tipis 0,1% alias stagnan, dan sangat anjlok bila dibanding pertumbuhan PMA tahun 2024 yang mencapai 21%.

Guntur kemudian menyorot pernyataan Teddy soal kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan.

"Teddy juga tidak menyebut masih komitmen investasi, melainkan langsung mengklaim kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan kembali langsung ada investasi di 575 triliun. Klaim itu juga palsu dan menyesatkan," kata Guntur.

Guntur menjelaskan bahwa angka Rp575 triliun baru sebatas komitmen bisnis di atas kertas, MoU, alias belum masuk sebagai realisasi investasi di BKPM.

"Tidak ada satu rupiah pun dari angka itu yang tercatat sebagai langsung masuk dalam data resmi," kata Guntur.

Guntur mengatakan apa yang disampaikan Teddy bukan sekadar overclaim. Menurutnya, pernyataan Teddy merupakan penyesatan publik yang disengaja.

"Teddy sengaja mengaburkan antara komitmen dan realisasi, serta menyematkan prestasi PMDN (investasi dalam negeri) sebagai hasil diplomasi luar negeri demi narasi politik yang gemerlap. Publik berhak mendapatkan fakta yang jujur, bukan kalimat bombastis yang menyesatkan," ujar Guntur.

Load More