News / Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 08:31 WIB
Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari di Jakarta. (Suara.com/Tsabita Aulia)
Baca 10 detik
  • Arezoo membuktikan bahwa di atas sepeda, batas-batas negara bisa dilebur dengan persahabatan.
  • Perjalanan Arezoo tidak disokong oleh dana melimpah dari pemerintahnya, Ia bukan pegawai negeri atau utusan kementerian.
  • Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.

Suara.com - Jakarta boleh saja sibuk dengan kemacetannya, tapi bagi Arezoo Eskandari, kecepatan bukan segalanya.

Pesepeda asal Iran ini baru saja tiba di Indonesia pada Sabtu (6/6/2026) setelah mengayuh pedal sejauh lebih dari 8.000 kilometer.

Ditemui di AFK Beauty Skin Clinic, Mampang, Senin (8/6/2026) sore, Arezoo memancarkan aura ketenangan yang berbeda.

Bukan sekadar hobi, perjalanannya melintasi benua ini membawa tiga misi besar: perdamaian dunia, persahabatan antar bangsa, dan kampanye filosofi Slow Life.

"Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang apa yang kita rasakan di sepanjang jalan," seolah menjadi pesan tersirat dari setiap kayuhan rodanya.

Arezoo membuktikan bahwa di atas sepeda, batas-batas negara bisa dilebur dengan persahabatan.

Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta setelah menempuh ribuan kilometer. (Suara.com/ Tsabita Aulia)

Pertanyaan yang paling sering menghampiri Arezoo bukan tentang rute, melainkan tentang keberanian. Bagaimana mungkin seorang perempuan berani melintasi benua sendirian dengan sepeda?

Dengan senyum tipis, seorang lulusan psikologi ini menjawab bahwa musuh terbesar manusia bukanlah jarak atau orang asing, melainkan isi kepalanya sendiri.

"Saya memiliki latar belakang pendidikan psikologi di Iran, saya juga aktif di dunia pendidikan di Iran. Dan apa yang saya sedang lakukan sekarang dengan mandiri bersepeda ke berbagai negara," ungkap Arezoo, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Blokade Gaza Total! Israel Stop Bantuan Kemanusiaan Pascaserangan Rudal Iran

Bagi Arezoo, ketakutan adalah dinding imajiner.

"Yang saya ingin bagikan dengan rekan-rekan wartawan, adalah kekhawatiran sering kali hanya berada dalam pikiran kita, dan pikiran kita yang membatasi langkah dan gerakan kita," ungkapnya.

Modal Nyali dan Hasil Jual Mobil

Perjalanan Arezoo tidak disokong oleh dana melimpah dari pemerintahnya, Ia bukan pegawai negeri atau utusan kementerian.

Ia adalah seorang pemimpi yang rela melepaskan kemapanan demi sebuah pencarian.

Sebelum memulai petualangan ini, ia bekerja di sektor swasta. Namun, mimpi yang besar menuntut pengorbanan yang nyata.

Load More