- Arezoo membuktikan bahwa di atas sepeda, batas-batas negara bisa dilebur dengan persahabatan.
- Perjalanan Arezoo tidak disokong oleh dana melimpah dari pemerintahnya, Ia bukan pegawai negeri atau utusan kementerian.
- Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.
"Saya sebelum melakukan perjalanan ini merupakan seorang pegawai di sektor swasta. Dikarenakan keterbatasan waktu dan kesempatan untuk mengincar mimpi saya, saya mengambil keputusan untuk mundur dari posisi saya sebagai seorang pegawai di sektor swasta," katanya.
Akhirnya dengan modal menjual mobil pribadi saya, saya jadikan modal awal, kemudian dengan modal awal tersebut saya mulai perjalanan saya.
Kini, hidupnya ada di atas sepeda seberat 60 kilogram beban yang sangat berat untuk dikayuh dengan kecepatan rata-rata hanya 15 kilometer per jam.
Tidak ada hotel mewah dalam agendanya.
"Dikarenakan keterbatasan finansial yang saya miliki, saya tidak ke hotel. Saya mendirikan tenda sendiri, tidur di tenda, bahkan masak sendiri untuk bisa mengelola perjalanan saya sampai dengan titik akhir," katanya.
Indonesia Negara ke-enam
Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.
Jarak 1.200 hingga 1.300 kilometer akan ia tempuh dalam waktu kurang lebih 30 hari. Baginya, setiap kota di Indonesia adalah laboratorium kebudayaan.
Ia ingin melihat kota-kota bersejarah, mencicipi kuliner lokal, dan memahami cara berpakaian masyarakat setempat untuk kemudian ia ceritakan kepada rakyat Iran melalui media sosialnya.
Baca Juga: Blokade Gaza Total! Israel Stop Bantuan Kemanusiaan Pascaserangan Rudal Iran
Selain itu, Banyak yang bertanya bagaimana ia menjalankan kewajiban ibadahnya sebagai seorang Muslimah di tengah perjalanan yang tak menentu.
Bagi Arezoo, hubungan dengan Sang Pencipta tidak dibatasi oleh sekat dinding bangunan.
"Tempat ibadah di mana pun. Seseorang menjalankan salat bisa di mana pun dan itu saya lakukan," ucapnya.
Selama tujuh bulan di jalanan, ia menemukan bahwa dunia tidak sekejam yang digambarkan berita. Ia menemukan sebuah 'bahasa universal'.
"Sepanjang perjalanan saya mengambil dua hikmah besar. Pertama, perjalanan saya sama seperti perjalanan hidup, ada naik dan turunnya, ada momen manis atau pahitnya. Apabila kita terus percaya pada tujuan kita, hal-hal baik akan terjadi," ucapnya.
"Kedua, setiap negara mungkin dipisahkan oleh perbatasan, tapi ada bahasa universal yaitu bahasa kebaikan," sambungnya.
Slogan Slow Life: Menikmati Detik Sekarang
Arezoo Eskandari adalah pengingat di tengah dunia yang terobsesi dengan kecepatan.
Ia memilih untuk berjalan lambat bukan karena lemah, tapi karena ingin melihat lebih banyak dan hidup lebih dalam.
"Slogan perjalanan saya adalah Slow Life atau Hidup Lambat, saya ingin mengajak orang-orang untuk menikmati setiap momen kehidupan sekarang tanpa terlalu khawatir tentang masa lalu atau masa depan," katanya.
Baginya, perjalanan menuju tempat wisata yang merupakan tujuan utama, bukan sekadar sampai di lokasi tersebut.
Ia ingin orang-orang, khususnya perempuan di Indonesia, untuk berani mengejar mimpi mereka selagi waktu masih memihak.
"Maka saya melalui kesempatan di sore hari ini ingin mengundang seluruh wanita yang berada di seluruh dunia, khususnya Indonesia, untuk tidak takut bermimpi dan tidak takut untuk mengincar mimpinya," harapnya kepada seluruh perempuan.
Kini, jalan aspal sepanjang Pulau Jawa menuju Bali telah menantinya, di bawah terik matahari tropis, Arezoo akan terus mengayuh, membawa bendera Iran dan pesan perdamaian di setiap tetap keringatnya.
Sebab bagi Arezoo, setiap orang yang ia temui di jalan bukan lagi orang asing, melainkan saudara dalam kemanusiaan.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Kilang Petrokimia Mahshahr Iran Jadi Sasaran Rudal Balasan Zionis Israel
-
Gowes 8.000 Km dari Iran ke Indonesia, Arezoo Eskandari Bawa Misi Perdamaian dan Bahasa Kebaikan
-
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Israel dan Iran Saling Hujani Rudal
-
IRGC Luncurkan Operasi Nasr, Targetkan Pangkalan Udara Utama Israel
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Bukan Sekadar Tipis, Ini 3 Inovasi Kunci Galaxy Z Fold8 Ultra yang Menetapkan Standar Baru HP Lipat
-
Iran Ogah Gencatan Senjata dengan Amerika Kalau yang Ngomong 'Orang Ketiga' Ini
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
-
Menggantung Nyawa di Wadah Ikan: Kisah Nelayan Situbondo Terombang-ambing 48 Jam di Laut Lepas
-
Seperti Biasa Investor Ambil Cuan di Akhir Pekan, IHSG Berakhir Ambruk ke 6.100
-
Kajati Sumsel Berganti, Siapa yang Kini Memimpin Kejati Usai Ketut Sumedana ke BGN?
-
Jangan Bandel! SPPG Makan Bergizi Gratis yang Tak Sesuai Standar Siap-siap Ditutup
-
Review Drama Love Designer, Kisah Cinta Seorang Designer dan Bos E-Commerce
-
Lampung Bersiap Transformasi dari Lumbung Mentah Jadi Raksasa Hilirisasi Pangan Nasional
-
Perkara Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Nyaris ke Level Rp18.000 Lagi