News / Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 08:31 WIB
Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari di Jakarta. (Suara.com/Tsabita Aulia)
Baca 10 detik
  • Arezoo membuktikan bahwa di atas sepeda, batas-batas negara bisa dilebur dengan persahabatan.
  • Perjalanan Arezoo tidak disokong oleh dana melimpah dari pemerintahnya, Ia bukan pegawai negeri atau utusan kementerian.
  • Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.

"Saya sebelum melakukan perjalanan ini merupakan seorang pegawai di sektor swasta. Dikarenakan keterbatasan waktu dan kesempatan untuk mengincar mimpi saya, saya mengambil keputusan untuk mundur dari posisi saya sebagai seorang pegawai di sektor swasta," katanya.

Akhirnya dengan modal menjual mobil pribadi saya, saya jadikan modal awal, kemudian dengan modal awal tersebut saya mulai perjalanan saya.

Pesepeda perempuan asal Iran, Arezoo Eskandari, menginjakkan kaki di Indonesia setelah gowes ribuan kilometer. (Suara.com/Tsabita Aulia)

Kini, hidupnya ada di atas sepeda seberat 60 kilogram beban yang sangat berat untuk dikayuh dengan kecepatan rata-rata hanya 15 kilometer per jam.

Tidak ada hotel mewah dalam agendanya.

"Dikarenakan keterbatasan finansial yang saya miliki, saya tidak ke hotel. Saya mendirikan tenda sendiri, tidur di tenda, bahkan masak sendiri untuk bisa mengelola perjalanan saya sampai dengan titik akhir," katanya.

Indonesia Negara ke-enam

Indonesia adalah negara keenam yang ia singgahi. Dari Jakarta, ia berencana mengayuh pedalnya menuju Denpasar, Bali.

Jarak 1.200 hingga 1.300 kilometer akan ia tempuh dalam waktu kurang lebih 30 hari. Baginya, setiap kota di Indonesia adalah laboratorium kebudayaan.

Ia ingin melihat kota-kota bersejarah, mencicipi kuliner lokal, dan memahami cara berpakaian masyarakat setempat untuk kemudian ia ceritakan kepada rakyat Iran melalui media sosialnya.

Baca Juga: Blokade Gaza Total! Israel Stop Bantuan Kemanusiaan Pascaserangan Rudal Iran

Selain itu, Banyak yang bertanya bagaimana ia menjalankan kewajiban ibadahnya sebagai seorang Muslimah di tengah perjalanan yang tak menentu.

Bagi Arezoo, hubungan dengan Sang Pencipta tidak dibatasi oleh sekat dinding bangunan.

"Tempat ibadah di mana pun. Seseorang menjalankan salat bisa di mana pun dan itu saya lakukan," ucapnya.

Selama tujuh bulan di jalanan, ia menemukan bahwa dunia tidak sekejam yang digambarkan berita. Ia menemukan sebuah 'bahasa universal'.

"Sepanjang perjalanan saya mengambil dua hikmah besar. Pertama, perjalanan saya sama seperti perjalanan hidup, ada naik dan turunnya, ada momen manis atau pahitnya. Apabila kita terus percaya pada tujuan kita, hal-hal baik akan terjadi," ucapnya.

"Kedua, setiap negara mungkin dipisahkan oleh perbatasan, tapi ada bahasa universal yaitu bahasa kebaikan," sambungnya.

Pesepeda asal Iran Arezoo Eskandari (kanan) di Jakarta. (Suara.com/Tsabita)

Slogan Slow Life: Menikmati Detik Sekarang

Arezoo Eskandari adalah pengingat di tengah dunia yang terobsesi dengan kecepatan.

Ia memilih untuk berjalan lambat bukan karena lemah, tapi karena ingin melihat lebih banyak dan hidup lebih dalam.

"Slogan perjalanan saya adalah Slow Life atau Hidup Lambat, saya ingin mengajak orang-orang untuk menikmati setiap momen kehidupan sekarang tanpa terlalu khawatir tentang masa lalu atau masa depan," katanya.

Baginya, perjalanan menuju tempat wisata yang merupakan tujuan utama, bukan sekadar sampai di lokasi tersebut.

Ia ingin orang-orang, khususnya perempuan di Indonesia, untuk berani mengejar mimpi mereka selagi waktu masih memihak.

"Maka saya melalui kesempatan di sore hari ini ingin mengundang seluruh wanita yang berada di seluruh dunia, khususnya Indonesia, untuk tidak takut bermimpi dan tidak takut untuk mengincar mimpinya," harapnya kepada seluruh perempuan.

Kini, jalan aspal sepanjang Pulau Jawa menuju Bali telah menantinya, di bawah terik matahari tropis, Arezoo akan terus mengayuh, membawa bendera Iran dan pesan perdamaian di setiap tetap keringatnya.

Sebab bagi Arezoo, setiap orang yang ia temui di jalan bukan lagi orang asing, melainkan saudara dalam kemanusiaan.

Reporter: Tsabita Aulia

Load More