-
Donald Trump mengklaim Amerika Serikat akan mendeklarasikan kemenangan mutlak atas Iran dalam waktu dekat.
-
Kesepakatan baru tersebut mewajibkan pihak Iran untuk menghentikan total seluruh proyek senjata nuklir.
-
Keberhasilan negosiasi diplomatik ini diproyeksikan mampu menurunkan harga minyak mentah di pasar global.
Suara.com - Gencatan senjata berpotensi mengalami pergeseran peta kekuatan baru dalam waktu dekat. Amerika Serikat diproyeksikan bakal segera mengumumkan dominasi penuhnya atas wilayah geopolitik Teheran Iran.
Pernyataan strategis tersebut dilemparkan oleh Presiden Donald Trump di tengah agenda kampanye politik. Momentum krusial ini disampaikan langsung demi mendongkrak dukungan bagi Senator Lindsey Graham dari Carolina Selatan.
Gedung Putih meyakini tekanan diplomatik intensif yang dilancarkan belakangan ini mulai membuahkan hasil nyata. Penghentian program pengayaan hulu nuklir menjadi salah satu poin paling krusial yang dipertaruhkan.
“Kami sedang bernegosiasi sekarang, dan mereka ingin membuat kesepakatan yang sangat baik. Mereka bersedia memberikan segalanya kepada kita, mereka bersedia tidak memberi kita senjata nuklir,” ujar Trump dikutip dari CNN.
Langkah ini diprediksi tidak hanya meredam konflik senjata di Timur Tengah secara masif. Lebih dari itu, stabilitas pasokan komoditas energi global diproyeksikan akan segera pulih normal.
“Saya pikir kita memenangkan pertempuran itu, tetapi Anda benar-benar akan memenangkannya dalam dua minggu ke depan ketika kita menyatakan kemenangan total, itu akan menjadi kemenangan total, itu akan terjadi sangat segera, dan harga minyak akan jatuh bertumbangan,” tutur Trump memproyeksikan situasi ekonomi.
Narasi optimisme mengenai tenggat waktu singkat ini sebenarnya bukan pertama kali dilontarkan ke publik. Washington kerap menggunakan strategi psikologis batas waktu untuk menekan posisi tawar-menawar lawan politiknya.
Sebelumnya, pakta penghentian kontak senjata sementara yang disepakati April lalu sempat berjalan stagnan. Publik sempat meragukan efektivitas diplomasi tersebut karena penyelesaian kesepakatan akhir terus mundur.
Respons lambat dari pihak musuh dianggap sebagai bentuk pertahanan terakhir dalam memelihara kedaulatan negara. Namun, Washington mengklaim bahwa ruang gerak ekonomi lawan kini sudah terkunci sepenuhnya.
Baca Juga: Gowes 8.000 Km dari Iran ke Indonesia, Arezoo Eskandari Bawa Misi Perdamaian dan Bahasa Kebaikan
Ketika dikonfirmasi mengapa pihak lawan belum meresmikan draf kesepakatan, Trump memberikan jawaban taktis. Dirinya menilai karakteristik kepemimpinan lawan yang keras kepala menjadi salah satu faktor penghambat utama.
“Karena mereka kuat. Mereka bangga. Ada hal-hal yang mereka tidak pernah mengira akan mereka lakukan yang harus mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan. Dan itu membutuhkan sedikit waktu,” tegas Trump menjabarkan kondisi internal rivalnya.
Konflik berkepanjangan ini berakar dari perbedaan prinsip kepemilikan teknologi pertahanan strategis antarkedua negara. AS secara konsisten menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis demi melumpuhkan sektor ekspor energi utama mereka.
Upaya perdamaian formal yang diinisiasi sejak awal April sebenarnya dirancang untuk bertahan singkat. Implementasi kebijakan pembatasan energi tersebut menjadi instrumen utama AS guna memaksakan kesepakatan jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Jaga Hak Perempuan, DPR Didesak Segera Sahkan Wahidah Suaib Jadi Anggota PAW Ombudsman RI
-
Warning Hasto Jelang Muktamar: NU Terlalu Besar Diseret ke Politik Praktis, Jangan Coba Pecah Belah
-
Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
-
Dilema Keuangan Anak Muda: Melek Finansial, tapi Masih Andalkan Paylater
-
Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo
-
4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik
-
Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen
-
Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun
-
BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo
-
Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan