- Ketimpangan upah buruh dengan standar kebutuhan hidup layak di Jakarta memicu penyusutan drastis jumlah kelas menengah.
- Jelang HUT ke-499 Jakarta, warga merasa semakin sulit menabung, memiliki rumah, dan terbebani oleh jam kerja.
- Cita-cita untuk hidup "cukup" kini bergeser dari standar awal menjadi tujuan akhir yang sulit diraih.
Kondisi itu juga terlihat dari menyusutnya jumlah kelas menengah Indonesia. Kelompok ini turun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi 47,9 juta pada 2024, lalu kembali menyusut menjadi 46,7 juta pada 2025.
Mereka yang turun kelas tidak otomatis jatuh miskin. Namun mereka masuk ke wilayah abu-abu yang rapuh—cukup dekat dengan jurang untuk tergelincir ketika ada satu saja guncangan ekonomi.
“Semua sekarang mahal,” keluh Putri, seorang karyawan swasta di kawasan Palmerah.
Ketika Mimpi Sederhana Menjadi Kemewahan
Dulu, impian kelas menengah sering digambarkan dengan rumah dan mobil.
Kini, bahkan mimpi yang jauh lebih sederhana pun terasa sulit diraih.
Menabung, misalnya.
Bagi Rizal, menabung bukan lagi pilihan, melainkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan.
“Sudah empat bulan saya nggak nabung,” keluhnya.
Baca Juga: Jakarta 'Bersih-bersih' Parkir Liar: 456 Pelanggaran Ditindak, 11 Jukir Liar Diciduk
Gajinya sebenarnya tidak kecil. Namun kebutuhan rumah tangga dan keluarga hampir selalu menghabiskan seluruh pendapatannya.
Mimpi lain yang terasa makin menjauh adalah memiliki rumah.
Di kota yang bercita-cita menjadi global city, harga properti terus melambung. Kenaikan harga rumah berjalan lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan riil pekerja.
Akibatnya, semakin banyak anak muda yang menyerah sebelum bertanding. Mereka memilih mengontrak tanpa batas waktu atau tinggal lebih lama bersama keluarga di kota-kota penyangga.
”Ngontrak bisa, tapi mau sampai kapan? Sayang aja gitu, keluar uang terus tapi nggak ada hasil barang yang kita dapet,” tutur Tari.
Belum lagi kecemasan yang terus menghantui dunia kerja.
Sepanjang 2024, lebih dari 77.000 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Di balik angka itu ada ribuan keluarga yang kehilangan sumber penghidupan.
Bagi banyak pekerja, ancaman PHK bukan sekadar berita ekonomi. Ia adalah ketakutan yang hadir setiap hari.
“Kita-kita umurnya udah maksimal di persyaratan kerja. Misal kena PHK, bener-bener hopeless,” cerita Clarence, yang perusahaannya tengah menghadapi kondisi sulit.
Di luar soal uang dan pekerjaan, ada satu hal lain yang diam-diam semakin langka: waktu.
Waktu untuk keluarga. Waktu untuk beristirahat. Waktu untuk hidup sebagai manusia.
”Setiap hari saya berangkat pagi, pulang malem. Kasihan istri, waktunya jadi singkat banget ngelihat ketampanan saya,” kelakar Arya, pekerja yang setiap hari berangkat dari Bekasi menuju Jakarta.
Candaan itu mengundang tawa. Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang akrab bagi jutaan komuter Jabodetabek.
Mereka menghabiskan sebagian besar hidup di jalan, kereta, dan kantor demi mempertahankan kehidupan yang semakin mahal.
Pesta untuk Siapa?
Perayaan HUT Jakarta ke-499 diperkirakan menjadi salah satu pesta rakyat terbesar tahun ini. Sebuah penanda bahwa kota ini hanya selangkah lagi menuju usia lima abad.
Arya mengaku tahu soal perayaan itu.
Namun ia tidak yakin akan datang.
“Buat apa rayain, kalau di kota itu sendiri ngerasa makin susah?” katanya.
Pertanyaan itu mungkin mewakili kegelisahan banyak warga Jakarta hari ini.
Mereka tidak menolak kemajuan kota. Mereka tidak membenci Jakarta.
Yang mereka rasakan adalah kelelahan.
Kelelahan karena gaji terasa hanya singgah sebentar di rekening. Kelelahan karena harga kebutuhan terus naik. Kelelahan karena tabungan yang disiapkan untuk masa depan perlahan terkikis untuk bertahan hari ini.
Lima abad tentu merupakan pencapaian luar biasa bagi sebuah kota.
Namun perayaan itu akan terasa kurang lengkap apabila mereka yang setiap hari membangun Jakarta—para pekerja yang berdesakan di KRL sejak subuh, yang pulang larut malam setelah lembur, yang terus menghitung sisa gaji menjelang akhir bulan—tidak ikut merasakan hasilnya.
“Bukan karena tidak cinta Jakarta,” kata Putri pelan. “Tapi kadang saya capek berjuang keras hanya untuk sekadar cukup.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Tahir Solo Museum Resmi Dibuka, Ada Fosil Dinosaurus 20 Meter!
-
Ulasan Novel Lara Rasa, Menata Ulang Masa Depan Sebelum Usia Tiga Puluh
-
Arsenal Gunakan Jalur Agen untuk Datangkan Bruno Guimaraes, Newcastle Mulai Gerah
-
Setara Institute Soroti Kasus Febrie Adriansyah, Desak Tim 9 Utamakan Supremasi Hukum
-
Cegah Konflik Keluarga! BRI Beri Cara Mudah Amankan Warisan untuk Anak dan Cucu
-
3 Klub Asing Tiba di Indonesia untuk Piala Presiden Elite 2026, Panitia Apresiasi Dukungan Imigrasi
-
Perkuat Ekonomi, Apa Itu Dana Bagi Hasil Tambang dan Kenapa Perlu Dievaluasi?
-
Duel Berdarah di Sampang: Tak Terima Ibu Dipacari Lansia, Anak Nekat Carok
-
Soroti Febrie Adriansyah Tanpa Rompi dan Borgol, Legislator Gerindra: Tak Ada yang Kebal Hukum
-
Bukan Sekadar Nostalgia, Timeless Project Live Ajak Generasi 2000-an Merayakan Perjalanan Hidup