News / Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 15:27 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang tiba di Istana Kepresidenan Jakarta, jelang pelantikan dirinya oleh Presiden Prabowo Subianto. (Suara.com/Novian)
Baca 10 detik
  • YLKI menantang Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang mewujudkan nol kasus keracunan MBG dalam 100 hari pertama.
  • Tantangan tersebut merespons tingginya dugaan keracunan makanan yang menimpa 37.673 penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.
  • Kepala BGN diminta memperkuat pengawasan, audit dapur, serta sistem mitigasi risiko untuk menjamin keselamatan anak sebagai konsumen.

Suara.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menantang Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dilantik, Nanik S Deyang, untuk menekan kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga nol kasus dalam 100 hari pertama masa jabatannya.

Tantangan itu disampaikan menyusul tingginya angka dugaan keracunan yang telah menimpa puluhan ribu penerima manfaat program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Ketua YLKI Niti Emiliana menegaskan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG.

"Keselamatan anak harus menjadi prioritas utama," kata Niti dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

YLKI menilai ratusan kejadian dugaan keracunan yang terjadi di berbagai daerah menjadi alarm serius bahwa tata kelola keamanan pangan dalam program MBG masih menyisakan banyak persoalan.

Karena itu, Nanik diminta menjadikan nihil kasus keracunan sebagai target konkret dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.

"YLKI meminta Nanik Deyang sebagai Kepala BGN yang baru menetapkan target yang jelas, yakni nihil kasus keracunan dalam 100 hari pertama kerja melalui penguatan pengawasan, peningkatan standar keamanan pangan, audit berkala dapur MBG, dan sistem mitigasi risiko yang lebih efektif," ujarnya.

Siswa yang diduga keracunan hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapatkan penanganan di posko penanganan keracunan MBG di SMPN 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (15/10/2025). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa]

Menurut Niti, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil jika dibarengi dengan pengawasan ketat, peningkatan standar keamanan pangan, audit rutin terhadap dapur penyedia MBG, serta sistem mitigasi risiko yang berjalan efektif.

Ia menekankan anak-anak sebagai kelompok konsumen rentan harus mendapatkan perlindungan maksimal dari negara.

Baca Juga: KPK Lebih Dulu Selidiki Kasus Korupsi MBG Sebelum Kejagung Tetapkan Tersangka

Pergantian pimpinan di tubuh BGN juga dinilai menjadi momentum penting untuk membenahi tata kelola program sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap MBG.

"Angka keracunan anak karena MBG yang jumlahnya ribuan dan bahkan berpotensi bertambah apabila tidak diperbaiki tata kelolanya. Hal tersebut merupakan alarm serius bahwa tata kelola keamanan pangan dalam program MBG masih bermasalah," tuturnya.

YLKI menilai 100 hari pertama kepemimpinan Nanik akan menjadi ujian awal untuk membuktikan bahwa program MBG dapat dijalankan secara aman, transparan, dan akuntabel.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 10 Mei 2026, tercatat sebanyak 445 kejadian dugaan keracunan yang berkaitan dengan konsumsi makanan MBG.

Jumlah korban mencapai 37.673 penerima manfaat yang tersebar di 210 kabupaten dan kota di 36 provinsi di Indonesia.

Load More