News / Nasional
Kamis, 11 Juni 2026 | 14:55 WIB
Potret Citizen Science (Pexels/ROMAN ODINTSOV)

Siapa pun bisa ikut terlibat

Menurut Mudi, salah satu kekuatan utama citizen science adalah keterbukaannya.

Partisipasi tidak dibatasi oleh latar belakang pendidikan maupun profesi.

“Kalau ditanya siapa yang bisa membantu, siapapun yang memang mau belajar dan mau berkontribusi untuk dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Petani, anak muda, guru, siapapun bisa,” katanya.

Ia menambahkan, banyak data yang terkumpul melalui pendekatan ini juga bersifat terbuka (open access) sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan akademik.

“Data tersebut bisa dipakai untuk skripsi, jurnal, dan lain-lain selama jelas penggunaannya,” ujarnya.

Di tengah luasnya wilayah dan tingginya keanekaragaman hayati Indonesia, pendekatan citizen science menunjukkan bahwa pengumpulan data tidak selalu harus dimulai dari laboratorium.

Kadang, ia bisa dimulai dari satu foto, satu pengamatan, dan satu warga yang memilih untuk mencatat apa yang ditemuinya di alam.

Penulis: Natasha Suhendra

Baca Juga: Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?

Load More