- Pemerintah Iran resmi menghentikan partisipasi dalam forum negosiasi empat negara di Swiss pada Selasa, 23 Juni 2026.
- Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas ancaman militer terbuka dari Presiden AS Donald Trump melalui media sosial.
- Tindakan Iran menyebabkan proses perundingan perdamaian yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance mengalami kegagalan total.
Suara.com - Harapan publik global untuk melihat redanya ketegangan politik di Timur Tengah menemui jalan buntu. Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penarikan diri dan menghentikan partisipasi mereka dalam forum negosiasi empat negara (four-party talks) yang tengah berlangsung di Swiss.
Keputusan mendadak ini diambil Teheran sebagai respons langsung atas ancaman militer terbuka yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump lewat media sosial Truth.
Sebagai informasi, Trump pada Minggu (21/6), mendadak memposting di platform Truth Social miliknya: "Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah."
"Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras lagi!!!" cetus Trump.
Usai menyadari ancaman ini, kesepakatan damai Iran-AS, di mana AS diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance mendadak memanas karena Iran walkout.
Dalam video yang viral di media sosial, nampak pihak penengah, PM Pakistan yang menunjukkan wajah kecewa dan kebingungan atas apa yang terjadi.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa delegasi mereka tidak akan melanjutkan pembicaraan damai di bawah tekanan maupun intimidasi politik dari Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa pernyataan bernada ancaman dari pihak AS di tengah berjalannya pertemuan empat negara menjadi pemicu utama Teheran mengambil sikap tegas.
"Iran tidak akan melanjutkan partisipasi dalam koridor negosiasi di bawah kondisi intimidasi seperti ini," tegas Baqaei, sebagaimana dikutip dari laporan resmi Kantor Berita Tasnim melalui laman media sosial X pada Selasa (23/6/2026).
Baca Juga: Rencana Negosiasi Damai AS-Iran di Swiss Ditunda
Meskipun dua negara mediator, yakni Qatar dan Pakistan, telah berupaya keras untuk menenangkan situasi dan menjaga agar roda diplomasi tetap berputar, delegasi Iran tetap bergeming untuk meninggalkan meja perundingan.
Perwakilan Teheran menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban dari pihak sekutu AS terkait pemenuhan komitmen bersama.
Iran juga menyuarakan kekhawatiran mendalam atas pelanggaran kepercayaan yang terus terjadi, terutama terkait aksi pembiaran terhadap pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh militer Israel di Lebanon.
Pemicu Ketegangan: Ancaman "Pukulan Keras" Donald Trump
Keretakan diplomasi di resort Bürgenstock yang menghadap ke Danau Luzern, Swiss ini berawal dari pernyataan keras yang diunggah oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada hari Minggu.
Tepat di saat proses negosiasi bilateral sedang berjalan, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran agar menyetop seluruh aktivitas milisi pendukung mereka di Lebanon.
Berita Terkait
-
Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855
-
Pasar Pantau Kesepakatan AS - Iran, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
-
Iran vs Barat: Skema Asuransi Selat Hormuz Bisa Lumpuhkan Perdagangan Dunia
-
Dari Persia Kuno! Isi Lengkap Surat Timnas Iran, Kirim Pesan Damai untuk Dunia
-
Piala Dunia 2026: Timnas Iran Tinggalkan Pesan Menyentuh di Stadion Los Angeles Usai Laga
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Aplikasi Hot 51 Dibongkar, Isinya Judi Online dan Live Streaming Pornografi
-
TransJakarta Hapus Dua Rute Sekaligus, 25 Armada Dialihkan demi Persingkat Waktu Tunggu
-
KPK Ungkap Setoran Rp100 Ribu-Rp2,5 Juta untuk Urus Izin Tinggal WNA, Ada Istilah 'Uang Klik'
-
Polisi Kembali Tetapkan 291 Tersangka Judol Hayam Wuruk, 287 Warga Asing
-
Guntur Romli: Safari Jokowi Tak Berdampak ke PDIP, Justru NasDem yang Harus Waspada!
-
Guntur Romli: Dulu Petugas Partai, Kini Jokowi Jadi 'Jongos PSI' Demi Dinasti 2029!
-
Relokasi Dua Pabrik Jepang ke Vietnam Ditunda, Ancaman PHK Massal Ribuan Buruh Mereda
-
Menkum: Pakai Karya Jurnalistik untuk Tujuan Komersil Wajib Bayar Royalti ke Pemegang Hak Cipta!
-
Prabowo Keceplosan 'Ndasmu' Lagi, Niatnya Guyon Tapi Kena Sindir Pakar Komunikasi
-
Motor Listrik Korupsi BGN untuk Guru Honorer: Solusi Cerdas atau Masalah Baru?