- Menkes Budi Gunadi Sadikin menetapkan ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan penderita TBC sebagai prioritas penerima intervensi gizi tambahan.
- Pemberian asupan gizi yang tepat bertujuan meningkatkan kualitas hidup serta mendukung proses penyembuhan medis kelompok rentan tersebut.
- Komisi IX DPR RI mengkritik wacana tersebut karena khawatir akan kendala teknis distribusi serta risiko penularan penyakit TBC.
Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan empat kelompok masyarakat yang memiliki masalah gizi serius dan memerlukan intervensi gizi tambahan.
Selain ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, ia menegaskan bahwa penderita Tuberkulosis (TBC) merupakan kelompok yang sangat membutuhkan perbaikan gizi.
Hal itu disampaikannya untuk menjelaskan soal ramainya pemberitaan mengenai wacana pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada penderita TBC.
Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah, penderita TBC memiliki kebutuhan gizi yang spesifik untuk membantu proses penyembuhan.
"Saya sebagai Menteri Kesehatan bilang, yang bermasalah gizi itu adalah ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan penderita TBC. Itu yang bermasalah gizi. Sudah ada bukti ilmiahnya, jurnalnya sudah ada," ujar Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ia menekankan bahwa fokus utamanya adalah memastikan kelompok-kelompok rentan tersebut mendapatkan asupan gizi yang baik demi menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
"Penting untuk kita pastikan cakupan gizinya baik. Karena kalau ini baik, ini menyelamatkan nyawa mereka, menyehatkan mereka, membuat mereka jadi lebih pintar, dan hidupnya bisa lebih normal," tambahnya.
Terkait kekhawatiran mengenai teknis pembagian makanan, seperti penggunaan wadah makanan (ompreng) yang dikhawatirkan menjadi sarana penularan TBC, Menkes memberikan tanggapan tenang.
Menurutnya, hal tersebut merupakan persoalan teknis eksekusi yang bisa dibahas lebih lanjut setelah kebijakan diputuskan.
Baca Juga: Prabowo Sentil Penolak MBG, Pakar Pertanyakan Apakah Betul Menyasar Anak Kelaparan?
"Bagaimana caranya, eksekusinya nanti apakah menularkan, itu kan isu lain sesudah itu nanti diputuskan. Fokus kita jangan lari ke mana-mana, target intervensi gizinya adalah empat kelompok itu," tegasnya.
Mengenai apakah anggaran intervensi gizi ini akan diambil dari pos Kementerian Kesehatan atau melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, Menkes menyatakan bahwa hal tersebut merupakan wewenang pelaksana program.
Ia menegaskan tugas Kemenkes adalah menentukan sasaran yang paling tepat berdasarkan data kesehatan agar program tersebut tepat sasaran.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengkritik keras wacana pemerintah yang berencana memasukkan penderita Tuberkulosis (TBC) sebagai penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Charles menilai rencana tersebut tidak realistis secara teknis dan berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit.
Meski setuju bahwa penderita TBC membutuhkan intervensi gizi sebagai bagian dari pemulihan, Charles menekankan bahwa menggunakan skema MBG bukanlah langkah yang tepat.
Berita Terkait
-
Prabowo Sentil Penolak MBG, Pakar Pertanyakan Apakah Betul Menyasar Anak Kelaparan?
-
Khawatir Cucu Diintai, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Minta LPSK Lindungi Keluarganya
-
Krisna Murti Bandingkan Sony Sanjaya dengan Bharada E: Pelaku Penembakan Saja Dapat JC
-
Daerah Masih Kekurangan Dokter, Menkes Nilai AI Belum Bisa Jadi Solusi
-
Tak Lagi Dianaktirikan, Menkes Pastikan BPJS Dokter Magang Kini Ditanggung Negara
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT