- Guru Besar UGM, Gabriel Lele, menyoroti kuatnya politisasi dalam pengisian jabatan di BUMN dan BUMD pada Selasa, 30 Juni 2026.
- Jabatan di BUMN sering digunakan pemerintah untuk mengakomodasi tim sukses atau relawan politik akibat terbatasnya posisi nonkarier.
- Praktik politisasi berisiko merusak profesionalisme serta mengancam kesehatan keuangan perusahaan yang seharusnya menjadi sumber penerimaan negara.
Suara.com - Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Gabriel Lele, menyoroti masih kuatnya politisasi dalam pengisian jabatan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurutnya, pola tersebut tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi turut berlangsung di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kondisi itu berpotensi menggeser tujuan utama perusahaan pelat merah sebagai penopang keuangan negara.
"Jadi, fenomena ini ya, kita sebut saja sebagai politisasi BUMN. Dan itu juga terjadi di daerah ya, BUMD juga polanya kurang lebih seperti itu," kata Gabriel kepada Suara.com, Selasa (30/6/2026).
Disampaikan Gabriel, jabatan di BUMN kerap menjadi ruang untuk mengakomodasi orang-orang yang memiliki kedekatan politik dengan kepala daerah maupun pemerintah.
Hal itu terjadi karena terbatasnya posisi nonkarier di birokrasi yang dapat digunakan untuk menampung tim sukses maupun relawan pendukung.
"Itu kan problemnya karena hampir tidak ada ruang bagi seorang kepala daerah untuk menampung jabatan-jabatan yang sifatnya non-karier birokrasi. Ya BUMN-lah jadi tempat penampungan orang-orang yang bermasalah ini," tandasnya.
Jika memang praktik tersebut sulit dihindari, kata dia, pemerintah tetap harus memastikan bahwa kompetensi menjadi pertimbangan utama dalam memilih pejabat BUMN.
Ia menilai publik justru melihat banyak pengangkatan yang tidak menunjukkan kesesuaian antara latar belakang calon pejabat dengan kebutuhan manajerial perusahaan.
"Nah, kalau saya melihatnya, hal-hal seperti itu kalaupun tidak bisa dihindari, harusnya tidak boleh mengorbankan kompetensi. Jadi pertimbangan utamanya itu tetap kompetensi seharusnya," tegasnya.
Baca Juga: Pakar UMY Soroti Pengisian Jabatan BUMN: Loyalitas Politik Dinilai Kalahkan Meritokrasi
Pengelolaan BUMN yang lebih mengedepankan pertimbangan politik berpotensi mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.
Padahal, BUMN seharusnya menjadi sumber penerimaan negara, bukan justru membebani keuangan negara akibat tata kelola yang tidak profesional.
Terkait wacana perampingan jumlah BUMN, Gabriel menilai langkah tersebut tidak akan banyak berdampak apabila pola pengelolaannya tidak berubah.
Menurutnya, pembatasan jabatan memang dapat mempersempit ruang akomodasi politik, tetapi perbaikan tata kelola tetap menjadi faktor yang paling menentukan.
"Ini kan sebenarnya jumlahnya mau banyak mau sedikit, kalau dipangkas tapi pengelolaannya tetap ya sama saja," ucapnya.
Gabriel menegaskan, gagasan utama yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah menghentikan politisasi dalam pengisian pimpinan BUMN.
Perusahaan pelat merah harus dikelola oleh figur yang memiliki kompetensi agar mampu menjalankan fungsinya sebagai sumber penerimaan negara, bukan menjadi beban bagi keuangan negara.
Berita Terkait
-
Pakar UMY Soroti Pengisian Jabatan BUMN: Loyalitas Politik Dinilai Kalahkan Meritokrasi
-
Tak Mau Investasi Hilirisasi Bernilai Jumbo Gagal, BP BUMN Gandeng KPK
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Prabowo Mau 'Copot' Ratusan Direksi dan Komisaris BUMN di Tengah Isu Rangkap Jabatan
-
Jabatan Komisaris BUMN Disorot, Gaji Ade Armando 33 Kali Lipat UMR Jakarta
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
AI dan Semikonduktor Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi 2027, Targetnya 6%
-
9 Rekomendasi Serum Anti Aging yang Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui
-
Bursa Mineral Akan Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi di 2027
-
DPR Kaji Usul Prabowo Bentuk Pengadilan AD Hoc Adili Pengurus BUMN
-
Daftar Pengalihan Arus Jalan Protokol Jakarta Saat Perayaan HUT RI ke-81
-
Satu Langkah Lagi, Dasco Sebut Finalisasi Perpres Ojol Digelar 18 Agustus di DPR
-
Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
-
Pemkab dan DPRD Bogor Sepakati KUA-PPAS 2027, Proyeksi Belanja Capai Rp14,5 Triliun
-
DPR Lembur Rampungkan RUU Perampasan Aset, Banyak Serap Aspirasi Masyarakat Sipil
-
Detik-Detik Mobil Pikap Mahasiswa KKN Unhas Rem Blong, Sopir Sengaja Tabrak Pohon