Suara.com - Selama beberapa tahun terakhir, nikel menjadi komoditas yang identik dengan kendaraan listrik. Indonesia bahkan menjadikan hilirisasi nikel sebagai strategi utama untuk membangun industri baterai dan memperkuat posisi dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Strategi tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik. Dilansir dari Gaikindo (27/6/2026), penjualan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia pada Maret 2026 meningkat 15,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Tren ini menunjukkan semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik sebagai alternatif transportasi yang lebih hemat energi, terutama di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Semakin banyak kendaraan listrik diproduksi, semakin besar pula kebutuhan terhadap bahan baku baterai, termasuk nikel.
Namun, apakah masa depan kendaraan listrik akan terus bergantung pada logam tersebut?
Perkembangan teknologi baterai menunjukkan jawabannya mungkin tidak.
Ketika Teknologi Bergerak Lebih Cepat daripada Industri Nikel
Selama ini, baterai berbasis nikel memang menjadi salah satu teknologi dominan untuk kendaraan listrik karena mampu menyimpan energi dalam jumlah besar.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri global mulai mengembangkan alternatif yang tidak lagi mengandalkan nikel sebagai bahan baku utama.
Baca Juga: Industri Fashion Terus Memproduksi Sampah, Bisakah Upcycling Jadi Jalan Keluar?
Salah satunya adalah sodium-ion battery atau baterai berbasis natrium. Dilansir dari BRIN (27/6/2026), baterai ini menggunakan sodium sebagai material utama yang jauh lebih melimpah dan memiliki biaya produksi relatif lebih rendah dibandingkan beberapa teknologi baterai lainnya.
Selain sodium-ion, produsen kendaraan listrik juga semakin banyak menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP).
Kedua teknologi tersebut tidak membutuhkan nikel dalam komposisi utamanya, tetapi tetap mampu memenuhi kebutuhan kendaraan listrik, terutama untuk kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri baterai sedang bergerak menuju pilihan teknologi yang semakin beragam, bukan hanya bergantung pada satu jenis material.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman atas Dugaan Rangkap Jabatan di BUMN
-
Indonesia-Belarus Sepakati 7 MoU dan Roadmap Kerja Sama hingga 2030
-
80 Tahun Polri: Reformasi Dinilai Jalan di Tempat, Pergantian Kapolri Dianggap Mendesak
-
Sekolah Rakyat Permanen Sukoharjo Hampir Rampung, Siap Beroperasi 14 Juli
-
Tri Tito Karnavian Berharap Produk Kerajinan Indonesia Tembus Pasar Global di HUT ke-46 Dekranas
-
Terjerat Korupsi MBG, Begini Nasib Brigjen Lalu di Polri!
-
Kolaborasi Perkuat Layanan Jantung Anak di RSUD Tobelo
-
Prabowo Berencana Terbang ke Belarus untuk Kunjungan Balasan
-
Wamensos Tinjau Sekolah Rakyat Permanen di Kulon Progo, Progres Pembangunan Capai 91 Persen
-
Telkom Akses Tingkatkan Kompetensi SDM Digital di Wilayah 3T melalui Program CSR Fiber Academy