- Peneliti Pukat UGM mendesak Kejagung mengusut seluruh pihak pengelola program Makan Bergizi Gratis termasuk TNI dan Polri.
- Penetapan tersangka Brigjen Pol Lalu Muhammad Iwan memperlihatkan adanya kelemahan tata kelola serta konflik kepentingan program tersebut.
- Pemerintah diminta mengevaluasi total pelaksanaan program agar tidak melibatkan pihak yang tidak sesuai dengan tugas pokoknya.
Suara.com - Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM, Zaenur Rohman, mendesak Kejaksaan Agung (Kejagung) mengusut seluruh Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam perkara dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, pemeriksaan tidak boleh terbatas pada pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun harus turut mencakup SPPG yang dikelola aparat TNI maupun Polri.
Hal itu menyusul ditetapkannya Sekretaris Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Brigjen (Pol) Lalu Muhammad Iwan Mahardan sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG di BGN.
"Ya menurut saya, semua SPPBG perlu diusut, semua. Apakah ada yang beli titik misalnya? Yang siapapun yang beli titik harus diproses secara pidana ya," tegas Zaenur, kepada Suara.com, Jumat (3/7/2026).
Zaenur menyoroti keterlibatan TNI dan Polri dalam pengelolaan SPPG. Menurut dia, pengelolaan layanan pemenuhan gizi bukan merupakan tugas pokok dan fungsi aparat keamanan.
"Tidak tepat ketika TNI-Polri itu mengelola SPPG. Itu bukan tupoksi mereka. Ini udah keluar, lompat pagar, bahkan saya melihat ini mengarah kepada militerisasi ketika TNI ikut mengelola SPPG," ujarnya.
Lebih jauh, Zaenur menilai dugaan korupsi yang menjerat Brigjen Pol Lalu Muhammad Iwan memperlihatkan lemahnya tata kelola program MBG.
Apalagi dengan modus yang digunakan diduga merupakan praktik konflik kepentingan karena pihak yang memiliki kewenangan justru ikut bermain dalam pengadaan ompreng.
"Artinya ini terjadi karena regulatornya ikut bermain, regulator sekaligus sebagai player. Nah, pengawasan internal tidak berjalan sama sekali," ungkapnya.
Baca Juga: Skandal MBG Seret Jenderal Polisi, Bukti Bahaya Ketika TNI-Polri Aktif Duduki Jabatan Sipil
Menurutnya, pengelolaan program semestinya diserahkan kepada pihak yang tidak memiliki konflik kepentingan.
Selain itu, pemerintah perlu mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan MBG, mulai dari sasaran program hingga beban anggaran negara yang ditimbulkan.
Zaenur meminta Kejagung menelusuri seluruh nama yang diduga terlibat dalam perkara tersebut. Ia mengingatkan agar proses hukum tidak berhenti pada tersangka yang sudah diumumkan.
"Ya kejaksaan ini sudah kepalang tanggung, harus didukung sampai setuntas-tuntasnya. Apalagi pihak-pihak yang diduga terafiliasi dengan politik, mereka punya konflik kepentingan, mereka beli jual beli titik, dan seterusnya ini harus dituntaskan diproses secara hukum pidana," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Skandal MBG Seret Jenderal Polisi, Bukti Bahaya Ketika TNI-Polri Aktif Duduki Jabatan Sipil
-
Polri Bidik 1.500 Dapur MBG Rampung Akhir 2026, Siap Layani 3,5 Juta Penerima
-
Riset CORE Indonesia Ungkap MBG & Kopdes Merah Putih Bikin Pemda 'Krisis Keuangan'
-
ICW: Prabowo Menormalisasi Rangkap Jabatan lewat Pengangkatan Nanik S. Deyang Cs
-
Kepala BGN Nanik S Deyang Dilaporkan atas Dugaan Rangkap Jabatan di BUMN
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi