News / Metropolitan
Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:17 WIB
Ilustrasi Anak Jakarta Main Sepak Bola di Aspal. (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Anak-anak di Jakarta memanfaatkan jalan aspal sebagai arena sepak bola karena minimnya akses lapangan yang terjangkau.
  • Liga Akamsi dan Liga Aspal diselenggarakan di permukiman padat Jakarta untuk memfasilitasi bakat sepak bola anak-anak setempat.
  • Anggota DPRD DKI Jakarta mendesak pemerintah menyediakan ruang bermain aman sebagai solusi atas risiko keselamatan di jalan.

Suara.com - Jalan aspal di sejumlah kampung padat Jakarta kini disulap menjadi arena sepak bola bagi anak-anak yang tak memiliki akses ke lapangan.

Fenomena ini terlihat dari munculnya dua liga sepak bola jalanan, Liga Akamsi dan Liga Aspal, yang digelar di tengah permukiman padat penduduk.

Liga Akamsi, singkatan dari Anak Kampung Sini, digagas oleh Mochamad Ichsan atau yang akrab disapa Kiwil, seorang suporter Persija berusia 23 tahun asal Penjaringan, Jakarta Utara.

Setelah edisi pertama digelar di Penjaringan, edisi kedua Liga Akamsi berlangsung di RW 05 Jembatan Lima/Sawah Lio, Tambora, Jakarta Barat, dengan diikuti delapan tim dari 14 RT dan total 48 anak.

Kompetisi yang berlangsung sekitar tiga bulan dengan lima kali penyelenggaraan ini digelar di atas jalan aspal yang ditutup sementara setiap dua pekan sekali.

Turnamen ini turut menjadi bagian dari perayaan Piala Dunia FIFA 2026, dan saat ini panitia tengah merencanakan edisi III meski lokasinya masih dirahasiakan.

Peserta Liga Akamsi dibatasi untuk usia 8 hingga 15 tahun dan wajib mengantongi izin orang tua atau wali serta verifikasi domisili RW.

Meski demikian, para peserta sendiri mengakui adanya risiko cedera akibat bermain di atas permukaan aspal yang keras.

Di Jakarta Pusat, fenomena serupa terjadi lewat Liga Aspal yang digagas Karang Taruna RW 08 Menteng Jaya di bawah kepemimpinan Andicka Prasetia atau Odoy, 27 tahun.

Baca Juga: Everything Is Possible: Kala Mimpi Besar Lahir dari Hidup yang Serba Kurang

Liga yang baru pertama kali digelar ini berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada 18 Juli 2026, diperuntukkan bagi anak-anak usia di bawah 13 tahun di jalan kampung dekat jalur rel kereta api.

Kegiatan terinspirasi langsung dari Liga Akamsi di Tambora, yang lahir dari keresahan atas mahalnya sewa lapangan futsal berkisar Rp100.000 hingga Rp150.000 per jam sehingga menyulitkan anak-anak menyalurkan bakat.

Warga sempat bergotong royong selama tiga bulan membersihkan lahan kosong milik PT KAI untuk dijadikan lapangan, namun PT KAI menolak izin penggunaan lahan tersebut dengan alasan keamanan.

Panitia akhirnya berinisiatif membuat pengamanan mandiri berupa tiang dan jaring tinggi agar bola tidak masuk ke area rel kereta api.

Kedua liga ini merupakan bagian dari fenomena yang semakin menjamur di Jakarta, yang didorong oleh minimnya ruang terbuka hijau dan lapangan di permukiman padat.

Sebagai gambaran, Kecamatan Tambora tercatat memiliki kepadatan penduduk 47.683 jiwa per kilometer persegi dengan ruang terbuka hijau yang sangat terbatas, berdasarkan data BPS Jakarta Barat 2025.

Load More