- Anak-anak di Jakarta memanfaatkan jalan aspal sebagai arena sepak bola karena minimnya akses lapangan yang terjangkau.
- Liga Akamsi dan Liga Aspal diselenggarakan di permukiman padat Jakarta untuk memfasilitasi bakat sepak bola anak-anak setempat.
- Anggota DPRD DKI Jakarta mendesak pemerintah menyediakan ruang bermain aman sebagai solusi atas risiko keselamatan di jalan.
Menanggapi fenomena ini, anggota DPRD DKI Jakarta Kevin Wu menyebut kondisi tersebut sebagai alarm bagi semua pihak.
"Menurut saya, fenomena anak-anak yang terpaksa bermain di jalan karena tidak memiliki lapangan atau ruang terbuka adalah alarm bagi kita semua. Anak-anak membutuhkan ruang yang aman untuk bermain, berolahraga, dan bersosialisasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima Suara.com, Jumat (3/7/2026).
Kevin Wu juga menyoroti risiko yang ditanggung anak-anak akibat bermain di jalan raya.
"Bermain di jalan tentu berisiko terhadap keselamatan mereka sekaligus dapat mengganggu lalu lintas. Hal ini diangkat dalam laporan beberapa media terkemuka yang menggambarkan keterbatasan ruang bermain di kawasan permukiman padat," lanjut Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta itu.
Ia pun mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk lebih serius menambah ruang bermain bagi anak.
"Saya mendorong Pemprov DKI Jakarta agar lebih serius menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), khususnya di wilayah-wilayah yang sudah sangat padat penduduk. Tidak semua harus melalui pembebasan lahan yang mahal. Pemprov bisa mengoptimalkan aset yang dimiliki, memanfaatkan lahan tidur, atau merevitalisasi ruang-ruang yang belum produktif menjadi area bermain dan olahraga bagi anak-anak," kata Kevin Wu.
Legislator dari Fraksi PSI itu menutup pernyataan dengan menekankan pentingnya arah pembangunan kota yang berpihak pada anak.
"Ke depan, pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada gedung dan jalan, tetapi juga harus memastikan setiap anak Jakarta memiliki akses terhadap ruang bermain yang layak. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup generasi penerus kita," pungkasnya.
Baca Juga: Everything Is Possible: Kala Mimpi Besar Lahir dari Hidup yang Serba Kurang
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Awas Macet! Jalur Transjakarta Gatsu Berlaku Mix Traffic hingga November 2026
-
5 Sunscreen Korea SPF 50 untuk Base Makeup Harian, Bebas Efek Abu-Abu!
-
Tuntut Pelunasan Hak Pekerja Trans Jogja, KSBSI Desak Dishub DIY dan PT AMI Buka Ruang Mediasi
-
Keker ke Langit di Tengah Demo Mahasiswa, Sosok Diduga Intel Bawa Drone Jammer Berharga Fantastis
-
Desil Tak Sesuai? Warga Bisa Sanggah Lewat Aplikasi Cek Bansos
-
Bendera Bulan Bintang Berkibar di Aceh, Akademisi Soroti Rekonsiliasi yang Belum Tuntas
-
Serangan Balik Febrie Adriansyah, Minta 74 Kg Emas dan Uang Tunai Dikembalikan
-
Pemain Keturunan Indonesia Laurin Ulrich Resmi Gabung Klub Bundesliga, Bakal Main di FIFA ASEAN Cup?
-
Tak Tembus Bundaran HI, Mahasiswa UI Bubar Sambil Ancam Bakal Demo Lagi Akhir Agustus
-
Subsidi Motor Listrik Berlaku September 2026