- Guru Besar UGM, Sri Raharjo, mengkritik pemerintah yang dinilai terburu-buru menjalankan program Makan Bergizi Gratis tanpa persiapan infrastruktur memadai.
- Pelaksanaan program saat ini dianggap tidak konsisten karena lebih fokus di wilayah mudah dijangkau dibandingkan daerah kantong stunting.
- Pemerintah disarankan mengoptimalkan fasilitas sekolah, meningkatkan aspek keamanan pangan, serta mengukur keberhasilan berdasarkan perubahan nyata status gizi penerima.
Suara.com - Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, menyoroti rencana pemerintah untuk melakukan refocusing Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kendati menyambut baik, ia menekankan bahwa perbaikan tidak cukup hanya dilakukan pada kelompok penerima manfaat saja. Evaluasi menyeluruh dari desain pelaksanaan, tata kelola penyedia makanan, hingga sistem evaluasi program pun harus menjadi perhatian.
Raharjo menilai pemerintah terlalu terburu-buru mengejar target menjangkau seluruh penerima manfaat pada tahun pertama pelaksanaan MBG. Hal itu terlihat dari tidak ada kesiapan yang matang dari infrastruktur maupun sumber daya pendukung.
"Sejak awal targetnya terlalu ambisius. Setelah banyak terjadi kasus keracunan, pemerintah akhirnya baru melakukan pembenahan. Seharusnya kesiapan itu disusun terlebih dahulu sebelum program dijalankan secara besar-besaran," kata Raharjo, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya pelaksanaan MBG justru tidak mengikuti peta persoalan stunting nasional.
Hal itu terlihat dari pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang justru lebih banyak berkembang di wilayah yang relatif mudah dijangkau.
Ketimbang kemudian berfokus pada daerah dengan prevalensi stunting yang jauh lebih tinggi, terutama di wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
Padahal pemerintah sendiri telah menargetkan penurunan prevalensi stunting nasional hingga di bawah 20 persen.
"Kalau memang ingin setia pada tujuan mengatasi stunting, maka fasilitas penyediaan makanan bergizi seharusnya diprioritaskan di kantong-kantong stunting. Nah yang terjadi sekarang justru tidak konsisten dengan tujuan tersebut," tegasnya.
Baca Juga: Prabowo Bangga Polri Kelola 1.000 SPPG: Ke Mana Arah Peran Kepolisian?
Kondisi tersebut tidak terlepas dari mekanisme penyelenggaraan MBG yang mengandalkan pembangunan dapur baru melalui yayasan dan investor.
Skema tersebut, kata Raharjo, menyebabkan pembangunan SPPG lebih banyak terjadi di daerah yang memiliki infrastruktur memadai, akses bahan pangan mudah, dan tersedia sumber daya manusia yang cukup.
"Kalau mekanismenya berbasis investasi, tentu investor akan memilih lokasi yang pasokan bahan pangannya mudah, listrik tersedia, SDM ada. Akibatnya daerah yang justru membutuhkan menjadi tertinggal," ujarnya.
Belum lagi menyoal dampak pengalokasian anggaran MBG terhadap program-program lain di kementerian dan lembaga yang telah berjalan sebelumnya.
Ia mengusulkan pemerintah memanfaatkan fasilitas dapur dan kantin yang sudah tersedia di sekolah daripada membangun dapur baru.
Menurutnya, optimalisasi infrastruktur pendidikan melalui koordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah akan lebih efisien sekaligus mempercepat pelaksanaan program
Berita Terkait
-
Klaim Bakal Diikuti 1 Juta Massa, Mitra MBG akan Demo di Patung Kuda, Ini 4 Tuntutannya
-
Keras! Guru Besar UNJ Sebut Program Makan Bergizi Gratis Jadi 'Proyek Berbagi Keuntungan'
-
Satu Program, Seribu Panggung: Jejak Narasi MBG dalam Pidato Prabowo
-
Prabowo Bangga Polri Kelola 1.000 SPPG: Ke Mana Arah Peran Kepolisian?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Pekerja di Roxy Mas Tewas Terjepit Lift Anjlok! Jasad Tergantung di Lantai 2 dan 3
-
Puan Jelaskan Makna Filosofis Gedung DPR RI ke PM Modi: Simbol Perjuangan Bangsa Berkembang
-
Puan Sambut Narendra Modi di DPR, Hubungan Parlemen Indonesia-India Diperkuat
-
Buntut Penembakan Ibu Hamil, Massa API Demo di Komnas HAM: Hentikan Pembunuhan Rakyat di Papua!
-
Bobby Terima Penghargaan Adinata Syariah, Bukti Sumut Berkontribusi bagi Penguatan Ekonomi Nasional
-
Narendra Modi Tiba di Gedung Parlemen, Siap Berpidato di Hadapan Anggota DPR
-
Gubernur Bobby Nasution akan Bangun SMK Unggulan Pariwisata Berkonsep Boarding School di Samosir
-
Urus Izin KLB Kini Ditargetkan Selesai 15 Hari
-
KPK Sita Land Cruiser Diduga Barang Suap Bupati Kuansing, Pelat Sudah Diganti
-
Mau Masuk Ancol Gratis? Ini Jadwal dan Cara Mendapatkan Tiketnya