-
Kekaisaran Jepang mengalami krisis suksesi karena hanya memiliki tiga ahli waris pria yang sah.
-
Pemerintah memilih opsi mengadopsi mantan kerabat kekaisaran daripada mengizinkan perempuan naik takhta.
-
Kebijakan mempertahankan tradisi patrilineal ini memicu perdebatan terkait diskriminasi gender dan keberlanjutan monarki.
Suara.com - Jepang kini berada di persimpangan jalan sejarah yang krusial terkait masa depan monarki tertua di dunia. Pemerintah setempat justru mempersempit peluang perempuan untuk memimpin kekaisaran demi mempertahankan tradisi patriarki.
Langkah politik ini diambil di tengah ancaman kepunahan garis keturunan Kekaisaran Jepang. Saat ini, takhta hanya bergantung pada 3 orang ahli waris yang sah.
Dua dari 3 penerus tersebut bahkan telah berusia 60 tahun ke atas. Aturan suksesi yang diskriminatif terhadap perempuan dinilai menjadi pemicu utama krisis yang kian meruncing ini.
Demi mengatasi kelangkaan penerus, jajaran menteri mengusulkan pemulihan status cabang keluarga kerajaan yang lama. Rencana penambahan kandidat pria ini sedang menunggu persetujuan parlemen.
Kebijakan tersebut langsung memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi, politisi oposisi, dan masyarakat luas. Mereka mempertanyakan alasan pemerintah yang tetap menutup pintu bagi perempuan untuk bertakhta.
Profesor Makoto Okawa, pakar garis keturunan kekaisaran dari Universitas Chuo di Tokyo, memberikan kritik tajam terkait situasi ini.
"Sulit untuk menemukan dasar rasional apa pun menolak mengizinkan seorang wanita menjadi kaisar," kata Profesor Makoto Okawa, dikutip dari CNN Internasional, Selasa (14/7/2026).
Menurut Okawa, konstitusi Jepang sama sekali tidak melarang perempuan untuk memimpin takhta. Baginya, penolakan ini bukan cerminan tradisi, melainkan sebuah bentuk diskriminasi gender.
"Ide untuk mengecualikan perempuan terlebih dahulu sebagai orang yang tidak mampu menjadi kaisar harus dipahami secara jelas sebagai misogini," kata Okawa.
Baca Juga: Review The Shrine: Teror Okultisme Jepang dan Korea yang Bikin Merinding!
Sejarah mencatat Jepang pernah dipimpin oleh 8 maharani sebelum hukum Meiji tahun 1889 resmi melarangnya. Kini, jajak pendapat menunjukkan mayoritas masyarakat sangat terbuka terhadap kehadiran kaisar perempuan.
Kendati demikian, gerakan suksesi perempuan terbentur tembok kokoh di tingkat pemerintahan. Perdana Menteri Sanae Takaichi bersama Partai Demokrat Liberal menjadi pihak yang paling keras menentang perubahan tersebut.
Dalam debat parlemen terbaru, Takaichi menegaskan posisi politiknya untuk tetap mempertahankan garis keturunan pria. Rencana undang-undang baru pun sama sekali tidak memberi ruang bagi para putri.
"Sesuai untuk membatasi kelayakan hanya pada keturunan laki-laki dari garis keturunan kekaisaran," kata PM Sanae Takaichi.
Di sisi lain, kelompok konservatif menilai perubahan aturan suksesi justru membawa risiko besar bagi stabilitas negara. Mereka berargumen bahwa tradisi patrilineal adalah fondasi utama monarki.
Tsuneyasu Takeda, seorang keturunan dari bekas cabang kekaisaran, menyuarakan kekhawatiran kelompoknya. Ia menilai keputusan ini tidak boleh diambil berdasarkan tren semata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Konvoi Mitsubishi Xforce Jelajahi Jalur Sejarah Solo - Ambarawa Rayakan Kemerdekaan
-
4 Zodiak Paling Beruntung Hari Ini 29 Agustus 2026: Ada Pisces hingga Libra
-
6 Trik Masak Nasi di Rice Cooker Supaya Cepat Matang dan Anti Lembek
-
Satu Ukuran untuk Semua: Mengapa Sistem Desil Tunggal Ancam Masa Depan?
-
Prabowo Jadi Tamu Utama Forum Ekonomi Rusia, Putin Siapkan Pertemuan Bilateral
-
Diakui di Kancah Internasional, Pegadaian Raih Penghargaan Best Sukuk - SME di Kuala Lumpur
-
Lebih dari Modal Usaha, PNM Bantu Mimpi Anak Nasabah Lewat Bantuan Pendidikan
-
IM3 Tak Lagi Jual Koneksi Saja, Airena Kreatif Bawa AI dan Adobe ke Bisnis Kreator hingga UMKM
-
Dor! Akhir Pelarian Begal Sadis Lampung Utara yang Tembak Perut Pelajar
-
18 Kode Redeem FC Mobile Aktif 29 Agustus 2026, Kesempatan Dapat Pemain OVR 118 dan Koin Gratis